Sunday, August 17, 2008

Life Survival vs Comfort Zone


Seorang kakek tua, dengan pakaian lusuh dan langkah yg gontai mengemis di tepi jalan, sangat terenyuh hati ini melihatnya. Sebagai orang yg sudah berumur tua, mungkin saat nya ia menikmati sisa hidup ini, tapi ia masih terbelit kesulitan hidup, mungkin anak2 dan keluarga nya mengalami kesusahan hidup pula, sehingga sang kakek di usia tuanya masih terus berjuangan memenuhi kebutuhan hidup sehari2 nya.Dalam kenyataan hidup sehari2 saat ini, banyak orang2 yg bernasib seperti kakek2 tua tersebut, namun kalau sampai tua pun ia hidup menderita, sungguh menyedihkan perjalanan hidupnya, sepanjang hidup dalam perjuangan untuk agar bisa hidup sehari2, bisa makan dan minum, yang dalam teori Maslow dikenal dg pemenuhan basic need ( kebutuhan dasar hidup) .Orang2 yg hanya hidup untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya, tak akan sempat lagi untuk berbudaya yg lebih beradab lagi,berpikir yg lebih tinggi dari sekedar mengisi perut. Sungguh kasihan sekali, ada teman yg mengistilahkannya , orang yg hidup dalam survival mode ( modus mempertahankan kehidupan ), mengambil istilah teknik / computer untuk syarat minimal sebuah proses.Orang2 yg hidup dalam survival mode, menghabiskan waktu hidupnya untuk sekedar bisa mempertahankan kehidupan nya, tak ada waktu lagi untuk berbuat hal2 yg lebih “berbudaya” , bagi mereka peradaban hidup serasa hampa. Tak sempat untuk belajar, tak sempat berpikir lebih tinggi, tak sempat berpikir tentang tujuan sebenarnya dari hidup ini.Dulu waktu ikut grup pencinta alam, saya pernah mengikuti latihan jungle survival, bertahan hidup di hutan, kita di lepas ke hutan, dan harus bisa bertahap hidup ( makan-minum ) dengan apapun yg ditemui di hutan tersebut. Begitu pulalah keadaan hidup orang2 fakir miskin yg tiap hari pergi ke sana ke mari untuk bisa sekedar bertahan hidup. Kebalikan dari survival mode, ialah orang2 yg hidup pada posisi yg telah nyaman, atau dikenal dg istilah sampai ke area “Comfort zone” ( zona nyaman , aman ).Mengambil dari teori hirarki kebutuhan Maslow, orang2 ini telah terpenuhi basic need dan kebutuhan yg lebih tinggi , mereka mengejar kebutuhan yg lebih bermakna lagi, seperti penghargaan dan aktualisasi diri. Idealnya manusia yg telah hidup layak, berada di area comfort zone, bisa membantu mereka2 yg berada pada keadaan survival mode.Namun hanya sebagian kecil saja, orang2 yg berada di comfort zone tersebut berjiwa dermawan, altruisme, mau membantu orang lain yg kesulitan hidup.Sebagian besar mereka malah sibuk dengan kekayaan nya, menghabiskan waktu untuk bersenang2, berfoya dengan kekayaan nya. Mereka berargumen, saya juga dulu hidup susah, sekarang saya ingin menikmati hidup, uang, punya gue ini kok, urusan amat ama lu ! ,mereka bilang, orang miskin itu pemalas, lebih rajin lagi dong cari uang nya. Sikap egois dan individualis adalah salah satu dasar sikap demikian. Bahkan banyak orang yg merasa dirinya berada pada survival mode, sehingga tak merasa perlu membantu yg lain.Misal kita urut dari perjalan hidup seseorang ; saat bersekolah, banyak yg tak mau terlibat dalam kegiatan sosial membantu orang lain dg alasan, saya sibuk belajar, agar dapat nilai tinggi dan bisa masuk ke sekolah favorit, agar bisa dapat IP tinggi, sehingga dapat kerja layak Saat sudah dapat kerja ia bilang, ia perlu uang banyak untuk bisa beli rumah, mobil dll, maaf saya tak bisa bantu orang2 miskin atau melakukan kegiatan sosial, saya juga susah nih.Ketika sudah bisa hidup layak, masuk ke area comfort zone, ia sudah lupa untuk membantu orang lain, ia mulai sibuk dengan kesenangan pribadinya, hobby, mulai bersifat konsumerisme, membangun rumah mewah, membeli mobil mewah dan hal2 lain untuk menikmati hidup setelah perjuangan mencari uang selama ini. Mereka tak sayang membuang uang banyak demi hobby nya, namun sangat pelit ketika diminta menyumbang untuk keperluan sosial, membantu orang yg kesusahan. Mereka tak sadar , bahwa di dunia ini, kita hidup bersama, orang kaya walau bagaimana pun jadi tak akan nyaman hidupnya bila banyak orang2 miskin.Orang2 miskin yg hidup dalam survival mode, akan melakukan apapun juga agar bisa bertahan hidup, termasuk dengan cara2 yg merugikan orang lain, spt kriminalitas. Orang kaya, akhirnya takut ketika bepergian, kalau ke pasar takut dicopet, naik kendaraan umum takut ditodong, sampai ke persimpangan jalan, mobil nya didatangi pengemis dan pengamen, kalau nggak dikasih, takut body mobilnya digores, dan seribu macam ketakutan lain nya. Karena itulah akhirnya orang2 kaya membangun rumah dengan pagar tinggi2, begitu pula perumahan2 mewah yg berpagar tinggi sekeliling nya.Di beberapa perumahan mewah di kota besar seperti Jakarta, kita temui kontras sekali antara rumah2 mewah didalamnya dan pemukiman kumuh di luar pagar nya. Bila ada mobil pembawa material bangunan datang ke dalam kompleks, di pintu luar sudah dicegat oleh para pemuda pengangguran yg akan naik dan kemudian akan minta uang ongkos bongkar ketika sampai di rumah yg dituju. Hal yg sama terjadi pada kawasan2 industri besar seputaran Jakarta, saat ada truk membawa barang datang ke kawasan industri, di pintu masuk mereka dihadang para preman yg minta uang kepada para sopir, sekedar uang keamanan istilahnya dan itu akan menambah biaya transportasi yg ujung2 nya akan menaikkan harga barang hasil produksi juga.Kondisi seperti itu, sesuai kata syair lagu Rhoma Irama yg kaya makin kaya, yg miskin makin miskin, benar2 telah menjadi kenyataan dan dampak negatifnya telah merugikan kita semua, namun tak banyak juga yg mau ambil peduli, dan menganggap ini semua urusan pemerintah, yg kita tahu sendiri sedang kerepotan juga.Jangan2 negara kita dalam survival mode juga ? Tapi bisa jadi benar juga, negara2 kaya yg berada di comfort zone, mulai sadar bahwa mereka hidup di dunia yg sama dg negara2 miskin, spt negara kita. Mereka mulai khawatir dengan dampak lingkungan nya spt efek rumah kaca, berkurangnya lapisan ozon .global warming dll, sehingga negara2 miskin harus menjaga hutannya, mengurangi penggunaan bahan bakar dll. Alih2 bukan nya negara kaya membantu negara2 miskin, negara2 kaya malah meminta agar negara2 miskin mengikuti standar mereka, sehingga negara2 miskin disibukkan oleh urusan2 tersebut, padahal untuk urusan utama bagaimana rakyatnya bisa hidup layak, belum terselesaikan juga.bahasa kasarnya, negara kaya bilang, eh lu negara miskin jangan mengotori dunia dong, jangan mencemari lingkungan, kita semua jadi dirugikan nih,kata kasarnya, urusan rakyat anda masih miskin, rakyatnya banyak yg kesulitan , itu mah urusan lu sendiri.Begitulah dalam tataran makro dunia , dan ternyata hal yg sama terjadi juga dalam tataran mikro kehidupan di tempat kita berada. Saat semua bersikap egois, individualis dan tak mau peduli dengan yg lain nya, semuanya akan merugi karenanya.Sebenarnya orang kaya yg tak merasa puas dengan hidupnya, hakikatnya adalah hidup dalam survival mode juga, ia belum sampai ke comfort zone yg hakiki. Sebenarnya ia masih “miskin” dalam makna lain. Orang2 yg hidup sederhana dan merasa cukup dengan bagian rizkinya yg penuh berkah, menyisihkan sebagian rezekinya untuk orang yg membutuhkan, sebenarnya ia telah sampai ke comfort zone, ialah sebenar orang kaya. Karena kekayaan hakiki adalah dalam jiwa, bukan dalam materi.Kalau kita berkaca pada sejarah, ternyata orang2 besar dalam sejarah kehidupan, adalah orang2 yg hidup sederhana juga, spt Nabi Muhammad, nabi Isa, Mahatma Ghandi dll. Tak banyak yg menyadari bahwa kehidupan di dunia ini , adalah perjuangan kita harus survive setiap hari, karena comfort zone yg hakiki adalah di akhirat kelak ( surga )Sepanjang masa kehidupan kita yg singkat ini, kita perlu berlaku sebaik mungkin, perlu survive dari berbagai ujian kehidupan , berbuat sebaik mungkin untuk kemanusiaan dan kehidupan, karena sepanjang hidup sebenarnya kita dinilai, siapa yg terbaik amalan nya. Peduli dan membantu orang2 miskin, mereka2 yg mengalami kesulitan hidup adalah salah satu bentuk amal yg baik pula


dikutip dari:

0 comments:

Post a Comment

Recent Comments