Sunday, May 31, 2009

MENCARI PATRIOTISME INDONESIA KINI

Ada banyak tokoh-tokoh patriotisme Indonesia yang pantas menjadi teladan bagi pencarian patriotisme jaman sekarang ini. Di saat jaman kita ini dipenuhi oleh banyak pemimpin yang tidak tahu diri, banyak elit politik yang main-main dengan bumi pertiwi, makin terasalah kebutuhan untuk mencari dan membangkitkan patriotisme yang selaras dengan gerak jaman. Kita mengenal patriotisme ala samurai di Jepang, yang ditandai oleh jiwa keberanian mengorbankan nyawa demi membela dan melindungi bumi pertiwi dan segenap masyarakatnya. Para samurai dianggap berjiwa agung bukan karena keberaniannya membunuh tanpa belas kasihan, tetapi karena dengan pengorbanannya mereka tidak hanya menjunjung cinta pada tanah air saja, tetapi terlebih untuk melayani hidup dan kedamaian seluruh penduduknya. Yang dikurbankan tidak hanya diri sendiri, tetapi juga harta. Dalam istilah jawa hal ini dikenal sebagai jiwa berkurban tanpa pamrih. Di Tiongkok kita juga bisa mengenal patriotisme ala kependekaran-pedang (swordmanship). Para pendekar pedang digambarkan juga sebagai orang-orang yang berjiwa luhur justru karena keberaniannya untuk membela rakyat dan negeri sampai sehabis-habisnya.
Pada umumnya gambaran seorang yang memiliki jiwa patriotis itu adalah orang-orang yang mencintai tanah airnya sampai titik darah penghabisan. Mereka tidak hanya sekedar mencintai keluarga, sanak kadang dan kelompok kroninya, tetapi mencintai tanah air setuntas-tuntasnya. Artinya, mencintai tanah air tidak hanya sekedar mencintai daerah, wilayah, pulau, negeri dalam arti geografis, tetapi lebih dari itu adalah mencintai rakyat seluruh negeri. Kebahagiaan seorang patriot adalah kebahagiaan orang yang melihat kedamaian, kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyatnya. Dalam upaya menumbuhkan patriotisme itu, di Indonesia pernah digembar-gemborkan semangat empat lima. Atau ada beberapa ahli yang menggalinya dari khasanah wayang Jawa dengan istilah Tri Pama (Tiga Teladan) yang menunjuk pada semangat patriotisme Kumbakarna, Sumantri dan Basukarna. Masih relevankah semangat empat lima, dan semangat "tri pama" bagi patriotisme Indonesia di jaman globalisasi ini? Kalau diambil saripati patriotisme sebagai semangat cinta tanah air dan seluruh rakyatnya, tentulah kita masih mengakui relevansinya. Tetapi pertanyaan yang lebih urgen lagi bagi penulis adalah mengapa jiwa dan semangat patriotisme yang demikian terdengar asing di jaman kita ini? Mengapa semangat patriotisme yang penuh pelayanan bagi keadilan, kesejahteraan dan perdamaian rakyat Indonesia tidak tumbuh subur?
Penulis melihat beberapa faktor yang sangat mempengaruhi terhadap kemiskinan patriotisme di Indonesia sekarang ini.
Pertama, dominasi militerisme yang terlalu kuat di jaman Orde Baru. Militerisme di jaman Orde Baru telah menggeser semangat patriotisme yang merakyat. Slogan-slogan seperti semangat empat lima, persatuan dan kesatuan bangsa, telah dipakai untuk membenarkan segala tindakan yang pada dasarnya untuk kepentingan segelintir orang saja. Hutan-hutan sudah dikapling-kapling, penjarahan secara nasional terhadap aset-aset ekonomi, pengabaian norma-norma kemanusiaan telah dibenarkan oleh slogan-slogan yang sarat untuk melindungi penguasa. Di sinilah tumbuhnya semangat yang memuja harta, kuasa dan pangkat merebak bagai virus yang menggerogoti seluruh sendi kebangsaan kita.
Kedua, gelombang dahsyat kesadaran akan nilai hakiki kemanusiaan. Globalisasi tidak hanya membawa kepentingan para pemodal internasional, tetapi secara positif mau tidak mau harus diakui telah menumbuhkan pula kesadaran global akan nilai-nilai kemanusiaan. Segala isme- termasuk di sini jenis patriotisme sempit ala militer - yang diwarnai oleh genocide dan penindasan terhadap kemanusiaan telah dianggap musuh dunia. Bagi rakyat Indonesia kiranya pengalaman telah memberi pelajaran berharga tentang apa artinya patriotisme sejati. Rakyat belajar mulai mengerti pengkhianatan-pengkhianatan yang sedang dilakukan para pemimpin dengan menginjak-injak hak-hak sipil. Rakyat justru sedang bergerak dalam pemahaman patriotisme yang menjunjung hak-hak asasi manusia.
Ketiga, dominasi kaum pengkhianat negeri yang kian merajalela. Kategori "pengkhianat" di sini dilawankan dengan kategori "patriot pelayan" bagi bangsa dan tanah air. Pengkhianat lebih mementingkan kepentingan kelompok dan kroninya daripada kepentingan seluruh rakyat. Tetapi, kondisi kesenjangan politis telah menempatkan rakyat pada posisi ketidakberdayaan. Artinya sistem tetap memihak pada kepentingan kroni, partai dan kelompok tertentu daripada kepentingan umum. Kesenjangan yang demikian menimbulkan antipati masyarakat pada politik. Di samping itu, kekosongan gambaran patriotisme yang seharusnya dimainkan oleh para pemimpin dan elit politik kita kian makin kentara dan terasa.
Keempat, iklim pendidikan kita yang sangat diwarnai sektarianisme. Iklim pendidikan yang cenderung menjunjung nilai-nilai eksklusif kelompok saja tidak akan menyuburkan bagi tumbuhnya semangat patriotisme sejati di bumi Indonesia. Sebaliknya, iklim pendidikan yang demikian hanya akan menyuburkan tumbuhnya para militan pengkhianat negeri. Sangat disayangkan, sekolah-sekolah yang sangat positif menumbuhkan semangat patriotisme Indonesia seperti Taman Siswa malahan seperti kurang mendapat perhatian semestinya. Sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah telah menjadi ajang perebutan pengaruh kelompok sektarian. Keempat faktor itu kiranya cukup memberikan alasan mengapa patriot-patriot sejati kini sangat jarang dilahirkan di bumi Indonesia. Kita mungkin butuh mengembangkan semangat "samurai" atau "swordmanship" yang lebih menjawab tantangan jaman sekarang ini.

Semangat patriotisme semacam apa itu? Penulis ingin menyebutnya semangat patriotisme kemanusiaan. Itulah kiranya yang sekarang ini sangat kita butuhkan. Semangat patriotisme kemanusiaan tidak hanya menjadi monopoli sipil saja, tetapi juga bisa ditumbuhkan dalam tubuh tentara-tentara profesional kita. Semangat itu perlu ditandai oleh karakter-karakter luhur seperti keberanian membela tanah air dan rakyat sehabis-habisnya, menjunjung nilai keadilan bagi segenap rakyat Indonesia, menjunjung nilai perdamaian demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Sebaliknya, karakter-karakter pengkhianat perlu dienyahkan dari generai para pemimpin bangsa sekarang ini. Karakter-karakter itu antara lain penipu dan pendusta publik, korup dan sewenang-wenang, penyogok keadilan, antek keserakahan yang menyengsarakan rakyat. Masih bisa dijereng lebih panjang lagi litani semangat patriotisme sejati dan litani virus karakter pengkhianat negeri. Penulis masih memiliki harapan. Di tengah galau dan kacaunya negeri ini, takkan terhalau semangat patriotisme sejati dari bumi pertiwi. Semoga jiwa emas pun lahir ditengah-tengah lumpur elit negeri ini.

Dikutip dari (dengan beberapa editan): http://www.forums.apakabar.ws/viewtopic.php?f=1&t=14254

Original Penulis: Tangkisan Letug

Saturday, May 30, 2009

PANTANG MENYERAH

Seorang pesenam Jepang meraih medali emas impiannya setelah menari dengan indah. Padahal sehari sebelumnya, tumitnya retak dan dokter menyatakan dia akan cacat seumur hidup. Rasa sakit dikalahkan oleh kemauan yang sangat kuat. Sepasang mahasiswa drop-out memulai sebuah usaha kecil kecilan yang sama sekali tidak diperhitungkan akan menjadi besar. Kini BILL GATES dan TIM ALEN merupakan dua orang legenda software dunia, padahal dia hanya berijazahkan high school (SMA) Seorang veteran perang dunia pertama menawarkan resep masakan keluarganya kepada 1000 orang yang dinilainya dapat memberikan modal usaha mengembangkan restoran. Seribu orang itu menolaknya, tetapi dia pantang menyerah. Bayangkan jika saat itu colonel SANDERS memutuskan untuk berhenti pada penolakan yang ke 999, hari ini kita tidak akann mengenal yang namanya KENTUCKY FRIED CHIKENKetika percobaan lampunya yang ke sekian ratus kali gagal, Thomas Alfa Edison berkata kepada seorang wartawan : “saya tidak gagal !!! BAhkan saya baru saja berhasil menemukan cara ke 879 untuk TIDAK BISA membuat LAMPU” PANTANG MENYERAH ………. !!!!!!!!!!!!!

Dikutip (100% termasuk gambar) dari: http://mozaikkata.blogspot.com/2009/02/pantang-menyerah.html

Saturday, May 16, 2009

CERITA TENTANG MATAHARI

"Demi matahari dan sinarnya di pagi hari, demi bulan apabila mengiringinya, demi siang apabila menampakannya, demi malam apabila menutupinya (gelap gulita), demi langit serta pembinaannya (yang menakjubkan), demi bumi serta penghamparannya, demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan) Nya, maka dia mengilhamkan kepadanya jalan kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikan (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.."(QS. Asy-Syams :1-10)
Suatu hari seorang anak bertanya pada ibunya, “ Ibu, ceritakan aku tentang matahari?”. Dengan lembutnya sang ibu bercerita,“Matahari merupakan sebuah karunia yang Allah berikan kepada makhluk hidup tidak hanya di dunia ini saja tapi juga kepada seluruh alam semesta. Kehadirannya membawa peran penting dalam keberlangsungan hidup. Di pagi hari ia bersinar di ufuk timur memberi kehangatan dan energy kepada yang menerima sinarnya untuk memulai aktifitas. Matahari yang cerah menyinari setiap sudut di bumi sehingga dunia terlihat begitu indah dengan warna-warni kehidupannya. Dengan sinarnya tumbuhan hijau dapat berfotosintesis sehingga mampu menghasilkan bahan makanan yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup terutama manusia. Dengan sinarnya manusia dan makhluk hidup lain dapat berinteraksi satu sama lain, melihat wajah saudara, teman dan sahabat, dapat tumbuh semakin dewasa seiring dengan pengalaman-pengalaman hidup yang ia rasakan. Di siang hari ketika matahari bersinar terik, sinarnya yang panas membuat manusia merasakan kehausan sehingga dapat merasakan nikmatnya melepas dahaga dengan seteguk air. Di sore hari ketika matahari akan terbenam di ufuk barat, ia menampilkan pemandangan yang cantik berwarna merah jingga. Ketidakhadirannya di malam hari memberi kesempatan kepada seluruh makhluk untuk beristirahat melepas lelah setelah beraktifitas sepanjang hari.”
Sang anak lalu bertanya, “Ibu, apakah ketika malam hari matahari berhenti bersinar?”. Sang ibu menjawab, “ Anakku, sesungguhnya matahari tak pernah berhenti bersinar. Ketika ia tidak menyinari bagian bumi yang satu, sesungguhnya ia sedang menyinari bagian bumi yang lain.” Sang anak kembali bertanyal,”Bagaimana bila matahari sudah tidak mampu lagi bersinar?”.
Sang ibu diam sejenak..
“Anakku, bila matahari sudah berhenti bersinar maka tidak akan ada lagi kehidupan di dunia ini. Semua makhluk hidup akan merasa sangat kehilangan karena sesuatu yang sangat penting bagi mereka telah hilang. Mereka akan mati karena kebutuhan mereka tidak terpenuhi yaitu kebutuhan akan cahaya. Meskipun matahari sudah berhenti bersinar, namanya akan selalu diingat oleh makhluk hidup dimanapun karena manfaat yang begitu besar yang sudah dia berikan kepada seluruh makhluk hidup di dunia ini”
“Bu, aku ingin menjadi seperti matahari yang bisa memberi manfaat kepada banyak orang” ujar sang anak. Sambil mengecup kening anaknya, sang ibu berkata, “Tentu anakku. Saat ini pun kau telah menjadi matahari di hati ibu".

Recent Comments