Sunday, June 20, 2010

Bensin Kakek Dari Surga

Malam Sabtu kemarin saya dan istri keluar bakda maghrib. Ke salah satu mall terbesar di Surabaya hendak mencari HP yang diiklankan di koran. “Pih, ini HP murah. HP papi kan katanya sinyalnya jelek.” Akhirnya pun saya menuruti istri. “Perempuan memang suka tergoda iklan,” batin saya. Selepas maghriban kami pun meluncur dengan Astrea hitam 90-an. Tadinya istri minta pakai mobil saja, tapi mobil kami sedang rewel karena radiatornya bocor.
Di tengah perjalanan istri saya mengingatkan untuk mengisi bensin motor. Maklum jarum bensin motor sudah tak berfungsi lagi. Jadi untuk tahu bensin masih ada apa tidak, hanya kira-kira saja. Pakai insting. Kapan isi, berapa liter, kita-kira ngisi lagi kapan. Untuk soal ini kadang saya mleset. Sering nuntun gara-gara kelupaan ngisi. “Pih, diisi bensin dulu,” suruh istri saya. “Lha wong tadi siang baru tak isi sak liter botolan kok. Insya Allah masih bisa,” saya ngeyel. Padahal saat itu persis melewati pom bensin. “Diisi dulu aja, daripada nanti nuntun.” “Nggak ah, masih nyampe.” Saya memang agak nyeyel. Akhirnya debat itu saya menangkan. Nggak jadi isi bensin. Lha iya wong pom bensinnya juga sudah kelewatan kok.
Sesampai di mall, kami langsung ke ajang pameran HP yang diiklankan itu. Wah…ramai banget. Kelihatan gaya hidup modern-nya. Anak-anak muda dengan aksesori perlambang kemodisan dan kemodernan: baju modis, HP mutakhir, dan lainnya. Pokoknya, mall memang sepetak cermin kemodernan di tengah hingar bingar kota yang menyisakan banyak problema, termasuk ketimpangan sosial. Tidak lama saya di situ, karena ternyata iklan tak sama dengan kenyataan. Busyet, iklan memang merangsang sekaligus membutakan. Saya pun bilang sama istri, “Dasar iklan, yang diiklankan selalu tak seperti kenyataan.”
Karena kecewa di mall itu, kami akhirnya memutuskan ke mall pusat HP di Surabaya selatan. Di sana pun akhirnya tak menemukan HP yang cocok. Saya pun bilang ke istri, “Ngapain sih beli HP baru, wong yang lama masih bisa dipakai?” Karena tak mendapatkan apa-apa, kami memutuskan pulang. Lagian juga hari sudah malam.
Di tengah perjalanan pulang, istri saya pengin makan burung dara. “Oke, kita cari warung ya.” Kami pun menyusuri jalan mencari warung yang jualan burung dara. Tiba-tiba, gas motor terasa beda. Agak tersendat-sendat. “Wah, alamat buruk nih…,” batin saya. Benar saja….grek…grek…..grek…. Motor tak mau jalan. Gas tak bisa lagi. “Pasti bensinnya habis nih, Pih. Tadi sudah tak bilangin, ngeyel.” Istri saya terus saja menceramahi saya karena saya nggak mau ngisi bensin tadi. Khas ceramah istri yang kecewa. “Iya, iya, papai minta maaf.” “Pokoknya papi janji nggak ngeyel lagi,” ancamnya. Wah, kalo dah gini, saya nggak akan mendebatnya.

Kami minggir. Saya pun menuntun motor. Saya dah beberapa kali nuntun motor seperti ini. Ya ngak kapok-kapok juga. Jalan sepi penjual. Nggak ada penjual di pinggir jalan. Penjual bensin botolan juga nggak ada. Motor terus saya tuntun di tengah deru kendaraan dan reman-remang jalan. Saya juga kasihan dengan istri. Dia jalan di belakang. Wajahnya kecewa karena harus jalan kaki gara-gara kengeyelan saya. Saya juga menyesal kenapa ngeyel ngak mau isi bensin. Ternyata ngeyel tak selamanya menguntungkan.
Sudah beberapa ratus meter saya nuntun motor. Nggak juga ada penjual bensin botolan. Dan saya tahu, di sepanjang jalan itu nggak ada pom bensin. Kalo mau sampai pom bensin, kami harus jalan paling tidak 3 kiloan. Wah…kebayang capeknya. Badan saya pun mulai panas dan berkeringat. Saya lihat istri, masih sama. Kami hanya pasrah. Terbayang betapa jauhnya untuk mencapai pom bensin. Ada satu penjual ban bekas, kami berharap jualan bensin botolan. Setelah kami tanya, “Nggak jualan bensin, Mas.” Wah, lemes.
Dalam kepasrahan itu, tiba-tiba ada yang tanya istri saya, “Kenapa, Mbak?” Seorang kakek tua dengan motor tuanya menghenyakkan bayangan di kepala saya. “Bensinnya habis, Pak,” jawab istri saya. Kami berdua nggak tahu apa yang akan dilakukan si kakek tua ini. Kami nggak peduli mulanya. Tapi si kakek lantas minggir dan berhenti persis di depan motor yang saya tuntun. Lalu sebuah kantong plastik diambilnya dari cantelan motor butut Suzuki 70-an itu. Saya benar-benar nggak tahu apa yang akan dilakukannya.
Saya dan istri masih bertanya-tanya, mau apa si kakek ini dengan kami? Kakek usia 70-an ini mendekati saya, lalu mengatakan, “Mas, ini saya bawa bensin.” What??? Saya kaget dan bertanya-tanya dalam hati. Kok bisa si kakek ini bawa bensin. Dia pun mengeluarkan botol oli. “Kok botol oli, Pak?” tanya saya keheranan. “Ini botol oli tapi isi bensin, Mas. Saya kemana-mana bawa bensin. Ya untuk nolong orang kalo ada yang kesusahan kayak Mas ini.” Deg….nyesss….. Langsung otak saya yang tadinya panas langsung dingin dan kaku. Keheranan. Orang macam apa ini? Di kota besar seperti Surabaya masih ada orang “super baik” macam ini? Saya bener-bener nggak percaya apa yang sedang saya lihat.
Saya pun lantas membuka jok motor. Ketika hendak menuangkan bensin itu, sang kakek berkata, “Oh ya, saya juga bawa corong, Mas.” Ya Allah, si kakek ini bawa corong juga? Untuk membantu orang yang kehabisan bensin di jalan!!! Kakek “dari surga” ini pun menuangkan bensin secukupnya ke motor saya. “Mas, ini sudah cukup untuk sampai ke pom bensin.” “Terima kasih, Pak,” jawab saya benar-benar ikhlas. Entah berterima kasih macam apa dengan kakek ini. Saya pun langsung mengambil dompet. “Nggak usah Mas. bener-bener nggak usah,” tolak kakek dengan isyarat tangannya. Saya pun memaksanya gar menerima uang yang tak seberapa dibanding bantuannya itu. Tapi si kakek ini pun tak mau jua.
Selama perjalanan pulang saya dan istri tidak henti-hentinya bicara keheranan dengan kebaikan si kakek ini. Saya juga heran kenapa tidak bertanya nama dan alamat rumahnya. Saya hanya bergumam dalam hati, “Semoga kita kelak bertemu di surga ya, Kek.” Air mata saya mau menetes, tapi saya tahan. Terbersit saya ingin menirunya. Jantung ini berdegup kencang ingat kakek tadi. Dia bukan siapa-siapa. Dari penampilannya jelas orang miskin. Dari usianya jelas sudah bau tanah. Sama sekali tak ada yang dibanggakan dari ukuran materi. Tapi itu semua bagi saya tidak ada artinya. Bagi saya, dia kaya! Dia tua usia, tapi panjang amalnya! Dia kaya daripada para koruptor dan orang kaya yang menindas orang macam kakek ini! Dia layak mendapat surga daripada orang kaya yang menyumbang dan diiklankan di media massa!
Coba bayangkan, dia sengaja membawa bensin dan corong kemana-mana hanya ingin menolong siapapun yang kehabisan bensin di jalan. Tanpa pamrih. Tanpa minta balasan. Tidak ada tendensi politik, ekonomi, popularitas, apalagi kekuasaan. Adakah yang naik Mercy atau BMW menolong orang yang menuntun motor kehabisan bensin di jalan malam-malam? Tidak ada! Tapi si kakek uzur dengan motor bututnya yang menolongnya. Ketika hendak tidur, ingin rasanya saya bermimpi berjumpa dengannya di surga. Terima kasih ya, Kek. Semoga kita berjumpa di surga. Amin.
Sumber:
http://ratmanboomen.blogspot.com/2009/12/bensin-kakek-dari-surga-kisah-nyata.html
Ditulis oleh: 07 Desember 2009(sesuai dengan info di Blog-nya)

Tiga Karung Beras

Ini adalah makanan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kisah ini adalah kisah nyata sebuah keluarga yang sangat miskin, yang memiliki seorang anak laki-laki. Ayahnya sudah meninggal dunia, tinggalah ibu dan anak laki-lakinya untuk saling menopang.

Ibunya bersusah payah seorang membesarkan anaknya, saat itu kampung tersebut belum memiliki listrik. Saat membaca buku, sang anak tersebut diterangi sinar lampu minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih menjahitkan baju untuk sang anak.

Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas.

Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah sehingga tidak bisa lagi bekerja disawah.

Saat itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga puluh kg beras untuk dibawa kekantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibuya tidak mungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras tersebut.

Dan kemudian berkata kepada ibunya: " Ma, saya mau berhenti sekolah dan membantu mama bekerja disawah". Ibunya mengelus kepala anaknya dan berkata : "Kamu memiliki niat seperti itu mama sudah senang sekali tetapi kamu harus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau mama sudah melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi daftarkan kesekolah nanti berasnya mama yang akan bawa kesana".

Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan kesekolah, mamanya menampar sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sang anak ini dipukul oleh mamanya.

Sang anak akhirnya pergi juga kesekolah. Sang ibunya terus berpikir dan merenung dalam hati sambil melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh.

Tak berapa lama, dengan terpincang-pincang dan nafas tergesa-gesa Ibunya datang kekantin sekolah dan menurunkan sekantong beras dari bahunya.

pengawas yang bertanggung jawab menimbang beras dan membuka kantongnya dan mengambil segenggam beras lalu menimbangnya dan berkata : " Kalian para wali murid selalu suka mengambil keuntungan kecil, kalian lihat, disini isinya campuran beras dan gabah. Jadi kalian kira kantin saya ini tempat penampungan beras campuran". Sang ibu ini pun malu dan berkali-kali meminta maaf kepada ibu pengawas tersebut.

Awal Bulan berikutnya ibu memikul sekantong beras dan masuk kedalam kantin. Ibu pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras dari kantong tersebut dan melihat. Masih dengan alis yang mengerut dan berkata: "Masih dengan beras yang sama". Pengawas itupun berpikir, apakah kemarin itu dia belum berpesan dengan Ibu ini dan kemudian berkata : "Tak perduli beras apapun yang Ibu berikan kami akan terima tapi jenisnya harus dipisah jangan dicampur bersama, kalau tidak maka beras yang dimasak tidak bisa matang sempurna.

Selanjutnya kalau begini lagi, maka saya tidak bisa menerimanya".

Sang ibu sedikit takut dan berkata : "Ibu pengawas, beras dirumah kami semuanya seperti ini jadi bagaimana? Pengawas itu pun tidak mau tahu dan berkata : "Ibu punya berapa hektar tanah sehingga bisa menanam bermacam- macam jenis beras". Menerima pertanyaan seperti itu sang ibu tersebut akhirnya tidak berani berkata apa-apa lagi.

Awal bulan ketiga, sang ibu datang kembali kesekolah. Sang pengawas kembali marah besar dengan kata-kata kasar dan berkata: "Kamu sebagai mama kenapa begitu keras kepala, kenapa masih tetap membawa beras yang sama. Bawa pulang saja berasmu itu !".

Dengan berlinang air mata sang ibu pun berlutut di depan pengawas tersebut dan berkata: "Maafkan saya bu, sebenarnya beras ini saya dapat dari mengemis". Setelah mendengar kata sang ibu, pengawas itu kaget dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sang ibu tersebut akhirnya duduk diatas lantai, menggulung celananya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan membengkak.

Sang ibu tersebut menghapus air mata dan berkata: "Saya menderita rematik stadium terakhir, bahkan untuk berjalan pun susah, apalagi untuk bercocok tanam. Anakku sangat mengerti kondisiku dan mau berhenti sekolah untuk membantuku bekerja disawah. Tapi saya melarang dan menyuruhnya bersekolah lagi."

Selama ini dia tidak memberi tahu sanak saudaranya yang ada dikampung sebelah. Lebih-lebih takut melukai harga diri anaknya.

Setiap hari pagi-pagi buta dengan kantong kosong dan bantuan tongkat pergi kekampung sebelah untuk mengemis. Sampai hari sudah gelap pelan-pelan kembali kekampung sendiri. Sampai pada awal bulan semua beras yang terkumpul diserahkan kesekolah.

Pada saat sang ibu bercerita, secara tidak sadar air mata Pengawas itupun mulai mengalir, kemudian mengangkat ibu tersebut dari lantai dan berkata: "Bu sekarang saya akan melapor kepada kepala sekolah, supaya bisa diberikan sumbangan untuk keluarga ibu." Sang ibu buru- buru menolak dan berkata: "Jangan, kalau anakku tahu ibunya pergi mengemis untuk sekolah anaknya, maka itu akan menghancurkan harga dirinya. Dan itu akan mengganggu sekolahnya. Saya sangat terharu dengan kebaikan hati ibu pengawas, tetapi tolong ibu bisa menjaga rahasia ini."

Akhirnya masalah ini diketahui juga oleh kepala sekolah. Secara diam- diam kepala sekolah membebaskan biaya sekolah dan biaya hidup anak tersebut selama tiga tahun. Setelah Tiga tahun kemudian, sang anak tersebut lulus masuk ke perguruan tinggi qing hua dengan nilai 627 point.

Dihari perpisahan sekolah, kepala sekolah sengaja mengundang ibu dari anak ini duduk diatas tempat duduk utama. Ibu ini merasa aneh, begitu banyak murid yang mendapat nilai tinggi, tetapi mengapa hanya ibu ini yang diundang. Yang lebih aneh lagi disana masih terdapat tiga kantong beras.

Pengawas sekolah tersebut akhirnya maju kedepan dan menceritakan kisah sang ibu ini yang mengemis beras demi anaknya bersekolah.

Kepala sekolah pun menunjukkan tiga kantong beras itu dengan penuh haru dan berkata : "Inilah sang ibu dalam cerita tadi."

Dan mempersilakan sang ibu tersebut yang sangat luar biasa untuk naik keatas mimbar.

Anak dari sang ibu tersebut dengan ragu-ragu melihat kebelakang dan melihat gurunya menuntun mamanya berjalan keatas mimbar. Sang ibu dan sang anakpun saling bertatapan. Pandangan mama yang hangat dan lembut kepada anaknya. Akhirnya sang anak pun memeluk dan merangkul erat mamanya dan berkata: "Oh Mamaku..................

Inti dari Cerita ini adalah:

Pepatah mengatakan: "Kasih ibu sepanjang masa, sepanjang jaman dan sepanjang kenangan" Inilah kasih seorang mama yang terus dan terus memberi kepada anaknya tak mengharapkan kembali dari sang anak. Hati mulia seorang mama demi menghidupi sang anak berkerja tak kenal lelah dengan satu harapan sang anak mendapatkan kebahagian serta sukses dimasa depannya. Mulai sekarang, katakanlah kepada mama dimanapun mama kita berada dengan satu kalimat: " Terimakasih Mama.. Aku Mencintaimu, Aku Mengasihimu... selamanya".

Sumber:
http://sirod.blogspot.com/2007/02/tiga-karung-beras-cerita-kasih-sayang.html

Love In Silence

Ada sebuah cerita tentang ibu dan anak..ini harus dibaca agar kita tahu betapa besarnya cinta mama kepada anaknya tanpa terucap kata.

Mamaku hanya punya 1 mata, aku membencinya...dia memalukan bagi aku, Dia memasak di SMP tempat aku sekolah untuk biaya hidup kami..hari itu dia datang di kelas dan menyapaku..aku sangat malu lalu mengacuhkannya dan berlari pergi..

Keesokkan harinya teman2 mengejekku,ingin rasanya aku menghilang..saat pulang aku berteriak ke mamaku : " kenapa kamu tidak mati saja klo kau ingin membuatku jadi bahan tertawaan dan ejekan" aku benar-benar marah saat itu..

Aku bertekad keluar dari rumah dan tidak berhubungan lagi dengan mama saya sehingga aku mendapat beasiswa belajar di singapura...aku menikah, punya anak dan hidup bahagia..

Sampai suatu hari mama datang ke singapura untuk menjenguk aku,saat di depan pintu anak2ku melihat dan ketakutan, saat itu juga aku berteriak " Beraninya kau datang ke rumahku,pergi saja jika kau hanya menakuti anak2ku " Dia terkejut dan menjawab " Maafkan mungkin saya salah alamat"

Setahun kemudian datanglah undangan reuni SMP dan aku hadir di acara itu...aku sempat melihat 1 rumah dimana aku tinggal pada waktu dulu..kata seorang tetangga bahwa mamaku sudah meninggal dan menitipkan sebuah surat ke aku..isinya adalah :

"Anakku tercinta aku memikirkanmu setiap saat,maafkan mama waktu mama ke singapura dan menakut-nakutin anakmu, maafkan mama jika membuat kamu malu di teman - temanmu dulu..Semoga kamu mengerti bahwa pada waktu kamu masih kecil kamu mengalami kecelakaan dan kehilangan 1 mata..tapi mama tak sanggup melihat anak mama tumbuh dengan 1 mata, jadi mama berikan 1 mata untukmu...tapi aku bahagia karena anakku (kamu) dapat melihat seluruh dunia tanpa kehilangan 1 matapun..."

Sumber: Berbagai sumber dari Internet

Thursday, June 10, 2010

Syair (Doa Abu Nawas)

Ilahi lastu lilfirdausi ahla
Walaa aqwa ‘ala naaril jahiimi
Fahabli taubatan waghfir dzunubi
Fainaka ghafirudz- dzanbil ‘adzimi

Dzunubi mitslu a’daadir- rimali
Fahabli taubatan ya Dzal Jalaali
Wa ‘umri naqishu fi kulli yaumi
Wa dzanbi zaaidun kaifa –htimali





Ilahi ‘abdukal ‘aashi ataak
Muqirran bi dzunubi
Wa qad di’aaka
Fain taghfir fa anta lidzaka ahlun
Wain tadrud faman narju siwaaka


Duh Gusti… tidak layak aku masuk ke dalam sorga-Mu
Tetapi hamba tiada kuat menerima siksa neraka-Mu
Maka kami mohon taubat dan mohon ampun atas dosaku
Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun atas dosa-dosa…

Dosa-dosaku seperti butiran pasir di pantai
Maka anegerahilah hamba taubat, wahai Yang Memiliki Keagungan
Dan umur hamba berkurang setiap hari
Sementara dosa-dosa hamba selalu bertambah, apalah dayaku

Duh Gusti… hamba-Mu penuh maksiat
Datang kepada-Mu bersimpuh memohon Ampunan
Jika Engkau ampuni memang Engkau adalah Pemilik Ampunan
Tetapi jika Engkau tolak maka kepada siapa lagi aku berharap?

Sunday, June 06, 2010

Emha Ainun Najib - Dari Bentangan Langit

Dari bentangan langit yang semu
Ia, kemarau itu, datang kepadamu
Tumbuh perlahan. Berhembus amat panjang
Menyapu lautan. Mengekal tanah berbongkahan
menyapu hutan !
Mengekal tanah berbongkahan !
datang kepadamu, Ia, kemarau itu
dari Tuhan, yang senantia diam
dari tangan-Nya. Dari Tangan yang dingin dan tak menyapa
yang senyap. Yang tak menoleh barang sekejap.

Emha Ainun Najib - Tahajjud Cintaku

Maha Anggun Tuhan  yang menciptakan hanya kebaikan
Maha Agung Ia yang mustahil menganugerahkan keburukan

Apakah yang menyelubungi kehidupan ini selain cahaya
Kegelapan hanyalah ketika taburan cahaya takditerima

Kecuali kesucian tidaklah Tuhan berikan kepada kita
Kotoran adalah kesucian yang hakikatnya  tak dipelihara

Katakan kepadaku adakah neraka itu kufur dan durhaka
Sedang bagi keadilan hukum ia menyediakan dirinya


Ke  mana  pun memandang  yang tampak ialah kebenaran
Kebatilan hanyalah kebenaran yang tak diberi ruang


Maha Anggun Tuhan yang menciptakan hanya kebaikan
Suapi ia makanan agar tak lapar dan berwajah keburukan

Tuhan kekasihku tak mengajari apa pun kecuali cinta
Kebencian tak ada kecuali cinta kau lukai hatinya

Saturday, June 05, 2010

Emha Ainun Najib - Sepenggal Puisi Cak Nun

 
 
Sayang sayang kita tak tau kemana pergi
tak sanggup kita dengarkan suara yang sejati
langkah kita mengabdi pada kepentingan nafsu sendiri
yang bisa kita pandang hanya kepentingan sendiri

Loyang disangka emas emasnya di buang buang
kita makin buta yang mana utara yang mana selatan
yang kecil dibesarkan yang besar di remehkan
yang penting disepelekan yang sepele diutamakan


Allah Allah betapa busuk hidup kami
dan masih akan membusuk lagi
betapa gelap hari di depan kami
mohon ayomilah kami yang kecil ini

Emha Ainun Nadjib - Doa Sehelai Daun Kering

Janganku suaraku, ya 'Aziz
Sedangkan firmanMupun diabaikan
Jangankan ucapanku, ya Qawiy
Sedangkan ayatMupun disepelekan
Jangankan cintaku, ya Dzul Quwwah
Sedangkan kasih sayangMupun dibuang
Jangankan sapaanku, ya Matin
Sedangkan solusi tawaranMupun diremehkan
Betapa naifnya harapanku untuk diterima oleh mereka
Sedangkan jasa penciptaanMupun dihapus
Betapa lucunya dambaanku untuk didengarkan oleh mereka
Sedangkan kitabMu diingkari oleh seribu peradaban
Betapa tidak wajar aku merasa berhak untuk mereka hormati
Sedangkan rahman rahimMu diingat hanya sangat sesekali
Betapa tak masuk akal keinginanku untuk tak mereka sakiti
Sedangkan kekasihMu Muhammad dilempar batu
Sedangkan IbrahimMu dibakar
Sedangkan YunusMu dicampakkan ke laut
Sedangkan NuhMu dibiarkan kesepian
Akan tetapi wahai Qadir Muqtadir

Wahai Jabbar Mutakabbir
Engkau Maha Agung dan aku kerdil
Engkau Maha Dahsyat dan aku picisan
Engkau Maha Kuat dan aku lemah
Engkau Maha Kaya dan aku papa
Engkau Maha Suci dan aku kumuh
Engkau Maha Tinggi dan aku rendah serendah-rendahnya
Akan tetapi wahai Qahir wahai Qahhar
Rasul kekasihMu maíshum dan aku bergelimang hawaí
Nabi utusanmu terpelihara sedangkan aku terjerembab-jerembab

Wahai Mannan wahai Karim
Wahai Fattah wahai Halim
Aku setitik debu namun bersujud kepadaMu
Aku sehelai daun kering namun bertasbih kepadaMu
Aku budak yang kesepian namun yakin pada kasih sayang dan pembelaanMu

Emha Ainun Najib - Memecah Mengutuhkan

 
 
Kerja dan fungsi memecah manusia
Sujud sembahyang mengutuhkannya
Ego dan nafsu menumpas kehidupan
Oleh cinta nyawa dikembalikan

Lengan tanganmu tanggal sebelah
Karena siang hari politik yang gerah
Deru mesin ekonomi membekukan tubuhmu
Cambuk impian membuat jiwamu jadi hantu
 
 
Suami dan istri tak saling mengabdi
Tak mengalahkan atau memenangi
Keduanya adalah sahabat bergandengan tangan
Bersama-sama mengarungi jejak Tuhan

Kalau berpcu mempersaingkan hari esok
Jangan lupakan cinta di kandungan cakrawala
Kalau cemas karena diiming-imingi tetangga
Berkacalah pada sunyi di gua garba rahasia

Kudekap Kusayang-Sayang

Kepadamu kekasih kupersembahkan segala api keperihan
di dadaku ini demi cintaku kepada semua manusia
Kupersembahkan kepadamu sirnanya seluruh kepentingan
diri dalam hidup demi mempertahankan kemesraan rahasia,
yang teramat menyakitkan ini, denganmu
Terima kasih engkau telah pilihkan bagiku rumah
persemayaman dalam jiwa remuk redam hamba-hambamu
Kudekap mereka, kupanggul, kusayang-sayang, dan ketika
mereka tancapkan pisau ke dadaku, mengucur darah dari
mereka sendiri, sehingga bersegera aku mengusapnya,
kusumpal, kubalut dengan sobekan-sobekan bajuku
Kemudian kudekap ia, kupanggul, kusayang-sayang,
kupeluk,
kugendong-gendong, sampai kemudian mereka tancapkan
lagi pisau ke punggungku, sehingga mengucur lagi darah
batinnya, sehingga aku bersegera mengusapnya,
kusumpal,
kubalut dengan sobekan-sobekan bajuku, kudekap,
kusayang-sayang.
       
1994
Dari Kumpulan sajak Abracadabra Kita Ngumpet, Yayasan Bentang Budaya Yogyakarta, 1994, 
halaman 7,  Republika, 24 Januari 1999

Emha Ainun Najib - Kita Masuki Pasar Riba

Kita pasar riba
Medan perang keserakahan
Seperti  ikan dalam air tenggelam

Tak bisa ambil jarak
Tak tahu langit
Ke kiri dosa ke kanan dusta

Bernapas air
Makan minum air
Darah riba mengalir


Kita masuki pasar riba
Menjual diri dan Tuhan
Untuk membeli hidup yang picisan

Telanjur jadi uang recehan
Dari putaran riba politik dan ekonomi
Sistem yang membunuh sebelum mati

Siapakah kita ?
Wajah  tak menentu jenisnya
Tiap saat berganti nama

Tegantung kepentingannya apa
Tergantung rugi atu laba
Kita pilih kepada siapa tertawa

Emha Ainun Najib - Ketika Engkau Bersembahyang

 
 
Ketika engkau bersembahyang
Oleh takbirmu pintu langit terkuakkan
Partikel udara dan ruang hampa bergetar
Bersama-sama mengucapkan allahu akbar

Bacaan Al-Fatihah dan surah
Membuat kegelapan terbuka matanya
Setiap doa dan pernyataan pasrah
Membentangkan jembatan cahaya


Tegak tubuh alifmu mengakar ke pusat bumi
Ruku' lam badanmu memandangi asal-usul diri
Kemudian mim sujudmu menangis
Di dalam cinta Allah hati gerimis

Sujud adalah satu-satunya hakekat hidup
Karena perjalanan hanya untuk tua dan redup
Ilmu dan peradaban takkan sampai
Kepada asal mula setiap jiwa kembali

Maka sembahyang adalah kehidupan ini sendiri
Pergi sejauh-jauhnya agar sampai kembali
Badan di peras jiwa dipompa tak terkira-kira
Kalau diri pecah terbelah, sujud mengutuhkannya

Sembahyang di atas sajadah cahaya
Melangkah perlahan-lahan ke rumah rahasia
Rumah yang tak ada ruang tak ada waktunya
Yang tak bisa dikisahkan kepada siapapun

Oleh-olehmu dari sembahyang adalah sinar wajah
Pancaran yang tak terumuskan oleh ilmu fisika
Hatimu sabar mulia, kaki seteguh batu karang
Dadamu mencakrawala, seluas 'arasy sembilan puluh sembilan

Emha Ainun Najib - IKRAR

Di dalam sinar-Mu
Segala soal dan wajah dunia
Tak menyebabkan apa-apa
Aku sendirilah yang menggerakkan laku
Atas nama-Mu

Kuambil sikap, total dan tuntas
Maka getaranku
Adalah getaran-Mu
Lenyap segala dimensi
Baik dan buruk, kuat dan lemah
Keutuhan yang ada
Terpelihara dalam pasrah dan setia
Menangis dalam tertawa
Bersedih dalam gembira
Atau sebaliknya
tak ada kekaguman, kebanggaan, segala belenggu
Mulus dalam nilai satu

Kesadaran yang lebih tinggi
Mengatasi pikiran dan emosi
Menetaplah, berbahagialah
Demi para tetangga
Tetapi di dalam kamu kosong
Ialah wujud yang tak terucapkan, tak tertuliskan

Kugenggam kamu
Kau genggam aku
Jangan sentuh apapun
Yang menyebabkan noda
Untuk tidak melepaskan, menggenggam lainnya
Berangkat ulang jengkal pertama
       
Dari: Antologi Puisi XIV Penyair Yogya, MALIOBORO, 1997

Emha Ainun Najib - Ditanyakan Kepadanya




Ditanyakan kepadanya siapakah pencuri
Jawabnya: ialah pisang yang berbuah mangga
Tak demikian Allah menata
Maka berdusta ia

Ditanyakan kepadanya siapakah penumpuk harta
Jawabnya: ialah matahari yang tak bercahaya
Tak demikian sunnatullah  berkata
Maka cerdusta ia


Ditanyakan kepadanya siapakah pemalas
Jawabnya: bumi yang memperlambat waktu edarnya
Menjadi kacaulah sistem alam semesta
Maka berdusta ia

Ditanyakan kepadanya sapakah penindas
Jawabnya: ialah gunung berapi masuk kota
Dilanggarnya tradisi alam dan manusia
Maka berdusta ia

Ditanyakan kepadanya siapa pemanja kebebasan
Ialah burung terbang tinggi menuju matahari
Burung Allah tak sedia bunuh diri
Maka berdusta ia

Ditanyakn kepadanya siapa orang lalai
Ialah siang yang tak bergilir ke malam hari
Sedangkan Allah sedemikian rupa mengelola
Maka berdusta ia

Ditanyakan kepadanya siapa orang ingkar
Ialah air yang mengalir ke angkasa
Padahal telah ditetapkan hukum alam benda
Maka berdusta ia

Kemudian siapakah penguasa yang tak memimpin
Ialah benalu raksasa yang memenuhi ladang
Orang wajib menebangnya
Agar tak berdusta ia

Kemudian siapakah orang lemah perjuangan
Ialah api yang tak membakar keringnya dedaunan
Orang harus menggertak jiwanya
Agar tak berdusta ia
Kemudian siapakah pedagang penyihir
Ialah kijang kencana berlari di atas air
Orang harus meninggalkannya
Agar tak berdusta ia

Adapun siapakah budak kepentingan pribadi
Ialah babi yang meminum air kencingnya sendiri
Orang harus melemparkan batu ke tengkuknya
Agar tak berdusta ia

Dan akhirnya siapakah orang tak paham cinta
Ialah burung yang tertidur di kubangan kerbau
Nyanyikan puisi di telinganya
Agar tak berdusta ia

ILIR-ILIR: Kepemimpinan Blimbing (Hikmah Sunan Ampel)

Lir ilir tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh temanten anyar
Bocah angon bocah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodot-iro
Dodot-iro dodot-iro lumintir bedah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung jembar kalangane
Mumpung padhang rembulane
Yo surako

------------------------------------------------------

”Lir-Ilir. Tandure Wus Sumilir. Tak Ijo Royo-Royo. Tak Sengguh Temanten Anyar.”

Menggeliatlah dari matimu, tutur Sunan. Siumanlah dari pingsan berpuluh-puluh tahun. Bangkitlah dari nyenyak tidur panjangmu. Sungguh negeri ini adalah penggalan sorga. Sorga seolah pernah bocor dan mencipratkan kekayaan dan keindahannya. Dan cipratan keindahannya itu bernama Indonesia Raya.

Kau bisa tanam benih kesejahteraan apa saja di atas kesuburan tanahnya yang tak terkirakan. Tak mungkin kau temukan makhluk Tuhanmu kelaparan di tengah hijau bumi kepulauan yang bergandeng-gandeng mesra ini. Bisa engkau selenggarakan dan rayakan pengantin-pengantin pembangunan lebih dari yang bisa dicapai oleh negeri-nergeri lain yang manapun.

Tapi kita memang telah tak mensyukuri rahmat sepenggal sorga ini. Kita telah memboroskan anugerah Tuhan ini melalui cocok tanam ketidak-adilan dan panen-panen kerakusan.

”Cah Angon, Cah Angon, Penekno Blimbing Kuwi.”

Sunan Ampel tidak menuliskan: "Ulama, Ulama", "Pak Jendral, Pak Jendral", "Intelektual, Intelektual" atau apapun lainnya, melainkan "Bocah Angon, Bocah Angon..." Beliau juga tidak menuturkan : "Penekno sawo kuwi", atau "Penekno pelem kuwi" atau buah apapun lainnya, melainkan "Penekno blimbing kuwi".

Blimbing itu bergigir lima. Terserah tafsirmu apa gerangan yang dimaksud dengan lima. Yang jelas harus ada yang memanjat pohon yang licin ini, agar blimbing bisa kita capai bersama-sama.

Dan yang memanjat harus "Cah Angon". Tentu saja ia boleh seorang doktor, boleh seorang seniman, boleh kiai, jendral, atau siapapun saja -- namun dimilikinya daya angon kesanggupan untuk menggembalakan. Karakter untuk merangkul dan memesrai semua pihak. Determinasi yang menciptakan garis resultan kedamaian bersama. Pemancar kasih sayang yang dibutuhkan dan diterima oleh semua warna, semua golongan, semua kecenderungan.

Bocah Angon adalah seorang pemimpin nasional, bukan tokoh golongan atau pemuka suatu gerombolan.

”Lunyu-Lunyu Penekno. Kanggo Mbasuh Dodot Iro.”

Sekali lagi, selicin apapun jalan reformasi ini, engkau harus jalani.... Selicin apapun pohon pohon tinggi reformasi ini sang Bocah Angon harus memanjatnya.

Harus dipanjat sampai selamat memperoleh buahnya, bukan ditebang, dirobohkan dan diperebutkan.

Air saripati blimbing lima gigir itu diperlukan oleh bangsa ini untuk mencuci pakaian nasionalnya. Konsep lima itulah sistem nilai yang menjadi wacana utama gerakan reformasi, kalau kita ingin menata semuanya ke arah yang jelas, kalau kita mau memahami segala tumpukan masalah ini dalam komprehensi konteks-konteks: kemanusiaan, kebudayaan, politik, rohani, hukum, ekonomi, sampai apapun.

Bukankah reformasi selama ini kita selenggarakan sekedar dengan acuan 'nafsu reformasi' itu sendiri, tanpa bimbingan ilmu atau spiritualitas dan profesionalitas rasional apapun?

”Dodot Iro, Dodot Iro, Kumitir Bedah Ing Pinggir. Dondomono, Jlumatono, Kanggo Sebo Mengko Sore.”

Pakaianlah yang membuat manusia bukan binatang. Pakaianlah yang membuat manusia bernama manusia.

Pakaian adalah akhlak, pegangan nilai, landasan moral dan sistem nilai. Pakaian adalah rasa malu, harga diri, kepribadian, tanggung jawab.

Pergilah ke pasar, lepaskan semua pakaianmu, maka engkau kehilangan segala-galanya sebagai manusia. Kehilangan harkat kemanusiaanmu, derajat sosialmu, eksistensi dan kariermu.

Semakin lebar pakaian menutupi tubuh, semakin tinggi pemakainya memberi harga kepada kemanusiaan pribadinya. Semakin sempit dan sedikit pakaian yang dikenakan oleh manusia, semakin rendah ia memberi harga kepada kepribadian kemanusiaannya.

Jika engkau berpakaian sehari-hari, engkau menjunjung harkat pribadi dan eksistensi sosialmu. Jika engkau mengenakan pakaian dinas, maka yang engkau sangga adalah harga diri dan rasa malu negara, pemerintah dan birokrasi.

Jika engkau melanggar atau mengkhianati amanat, tugas dan fungsimu sebagai pejabat negara, maka sesungguhnya engkau sedang menelanjangi dirimu sendiri.

Pakaian kebangsaan kita selama berpuluh-puluh tahun telah kita robek-robek sendiri dengan pisau pengkhianatan, kerakusan dan kekuasaan yang semena-mena -- yang akibatnya justru menimpa rakyat yang merupakan juragan kita, yang menggaji kita dan membuat kita bisa menjadi pejabat.

Bukankah negara dan pejabat memerlukan rakyat untuk menjadi negara dan pejabat? Sementara rakyat bisa tetap hidup tanpa negara dan pejabat?

Maka dondomono, jlumatono, jahitlah robekan-robekan itu, utuhkan kembali, tegakkan harkat yang selama ini ambruk.

”Mumpung Jembar Kalangane, Mumpung Padhang Rembulane. Yo Surako, Surak Hiyooo!.”

Indonesia Raya ini masih merupakan ladang masa depan yang subur, masih memancar cahaya rembulannya. Mumpung SDA nya masih banyak, mumpung tanahnya masih subur, mumpung mata airnya masih mengalir....., singsingkan lengan baju mulai sekarang!
Dikutip dari:
http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=News&file=article&sid=269

Aku Ingin Anak Lelakiku Menirumu


Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu. Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata: Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu! 
-------------------------------------------------------------------

Oleh Neno Warisman - 'Izinkan Aku Bertutur'

Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu kubilang pada ayahnya: "Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!"
Suamiku menjawab: "Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku."
Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa.

Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan mengkhatam kan Al Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku: "Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah."
Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata: "Oh ya. Ide bagus itu."

Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa. Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia Ahmad. Kami berdua sangat bahagia dengan kehadirannya.

Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya. Pelajaran matematika sederhana sangat mudah dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika.

Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba ia minta naik ke punggung papanya. Entah apa yang menyebabkan papanya begitu berang, mungkin menganggap Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia kelelahan.

Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah, tangisnya pecah, Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima. Sejak hari itu, Ahamad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah.

Aku coba mendekati suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh urusan seremeh itu, katanya.

Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu. Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa lucu: "Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!"

Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu. "Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!"

Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang pedih di hatiku. Ada yang mencemaskan aku. Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu.

Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu. Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak menghentak, "Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!" Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.

Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan dirinya di kamar mandi.

Aku, wanita tua, ruang dan waktu kurajut dalam pedih duka seorang istri dan
seorang ibu. Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini. Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya.

Aku rebut koran di tangan suamiku dan kukatakan padanya: "Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak ia merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki, kau bilang kau sibuk sekali. Kau dengar? Kau dengar anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing dengan anaknya sendiri!"

Allahumma Shali ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi wassalaam.

Aku ingin anakku menirumu, wahai Nabi. Engkau membopong cucu-cucumu di punggungmu, engkau bermain berkejaran dengan mereka Engkau bahkan menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati. Dan engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu, "Bekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf halus yang putus di kepalanya?"

Aku memandang suamiku yang terpaku. Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang tajam. Kupandangi keduanya, berlinangan air mata. Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu?

Lalu kuambil tangan suamiku, meski kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang didamba.

Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan di hadapan mereka berdua, "Lakukanlah ini, permintaan seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu mewariskan apa-apa: kecuali Cinta. Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi keturunan. Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di permukaan dunia. Tak akan pernah ada perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa kasih dan sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan.

Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka. Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya. Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku. Aku bilang: "Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang."

Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama, bergantian menggantikan popoknya, pura-pura merancang hari depan si bayi sambil tertawa-tawa berdua, membuka kisah-kisah lama mereka yang penuh kabut rahasia, dan menemukan betapa sesungguhnya di antara keduanya Allah menitipkan perasaan saling membutuhkan yang tak pernah terungkapkan dengan kata, atau sentuhan.

Kini tawa mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur pada-Mu Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu. Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku.

Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu. Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata: Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu!
Amin, alhamdulillah
Dikutip dari:
http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=News&file=article&sid=328

Perpisahan Itu Akan Selalu Ada

“Pada dasarnya, orang memang malas dengan perubahan, Nduk,” lanjut Bapak kemudian. “Yang penting dalam hidup ini adalah bagaimana cara kita untuk melakukan yang terbaik pada setiap tarikan nafas kita, hingga tak besar penyesalan yang akan kita jumpai nanti... 
----------------------------------------------------------------
 
Tidak ada yang kekal di dunia ini. Setiap ada kelahiran pasti ada kematian, setiap ada kesenangan pasti ada kesedihan, dan setiap ada perjumpaan pasti diakhiri dengan perpisahan. Aku sangat meyakini semuanya. Yang tetap tak kumengerti, mengapa selalu saja air mata ini jatuh di pipiku saat perpisahan itu datang menjelang.

“Itu manusiawi, Nduk,” kata Bapak memecahkan keheningan suasana.

Sore ini, keluarga besar kami sedang berkumpul. Awalnya gelak tawa menghiasi ruang keluarga yang tak seberapa besar ini karena cerita-cerita masa lalu kami yang penuh dengan keprihatinan, namun terasa menggelikan.

Ibu duduk di depan mesin jahitnya, seusai menjahit celana Thariq, putraku. Bapak duduk tepat di belakang Ibu, sambil sesekali melihat berita di tivi. Aku, adik bungsu kami, adik perempuanku dan suaminya duduk di karpet, juga di depan tivi. Sedangkan dua jundi kecil sedang tidur pulas di kamarnya masing-masing. Dan suamiku tak hadir dalam pertemuan keluarga ini karena sedang melanjutkan studi ke negeri Jiran.

Ya, aku baru datang ke kota kelahiranku 3 hari yang lalu. Kantor tempat aku bekerja memberikan izin cuti, untuk menengok ponakanku yang baru berusia sebulan.

Pertemuan-pertemuan seperti ini selalu aku nantikan dalam hidup sendiriku di perantauan. Setiap kali ada rencana untuk datang ke kampung halaman, sepertinya semangat hidupku tumbuh kembali. Keingingan untuk segera menyelesaikan semua tanggung jawab di kantor menjadi prioritas agar rencana itu tidak sampai gagal hanya gara-gara tidak mendapat ijin dari atasan.

Dan hari-hari menjelang keberangkatan adalah hari-hari terindah. Namun, ketika saat itu tiba, rasa malas mulai menjalari urat nadiku, karena perpisahan pasti akan segera menemuiku.

“Pada dasarnya, orang memang malas dengan perubahan, Nduk,” lanjut Bapak kemudian. “Yang penting dalam hidup ini adalah bagaimana cara kita untuk melakukan yang terbaik pada setiap tarikan nafas kita, hingga tak besar penyesalan yang akan kita jumpai nanti. Seperti yang sedang kau rasakan saat ini, kami semua juga merasakannya. Saat-saat bahagia saat kita berjumpa, akan selalu berakhir dengan saat yang menyedihkan karena perpisahan di antara kita. Itu akan selalu terjadi pada kita, karena dunia ini fana. Tidak ada satu hal pun yang kekal di dunia ini, tak ada. Makanya, kita harus selalu berusaha membenahi iman dan ketaqwaan dalam hati kita, agar kelak kita bisa dikumpulkan dalam surga-Nya. Karena kita hanya akan mendapati pertemuan yang kekal, insyaallah di akhirat nanti, di surga-Nya. Untuk itu, kita harus berlomba-lomba mendapatkan surga Allah hingga kita bisa berjumpa dalam ridho-Nya, tanpa akan menemui perpisahan lagi. Bukankah Allah SWT telah berfirman dalam Surat Al Kahfi ayat 107 dan 108: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga firdaus menjadi tempat tinggal. Mereka kekal didalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari padanya.”

Kami semua menunduk dengan mata berkaca-kaca. Ya, Pak... Insya Allah, kita akan berusaha untuk selalu berbenah diri, untuk meraih ridho Allah.
Dikutip dari:
http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=News&file=article&sid=428

Karena Noda Datang Setiap Hari

Noda kotoran itu setiap hari ada dan bertambah, jika kita tidak rajin membersihkannya maka kotoran itu akan semakin pekat. Demikian juga dengan dosa, setiap hari tanpa terasa kita membuat dosa, walaupun dosa itu kecil setiap hari akan semakin menumpuk dan menjadi banyak dosa kita, sehingga setiap hari kita harus introspeksi dan memperbaiki diri, dan terus bertobat

-------------------------------------------------------------------------

Eramuslim - Beberapa tahun silam, setiap satu hari menjelang Ramadhan biasanya kami sekeluarga melakukan satu kegiatan bersama. Seluruh anggota keluarga berkumpul, tanpa kecuali, untuk bersama-sama membersihkan rumah. Setiap sudut dan sisi rumah dibersihkan, dari pagar, teras, kamar mandi hingga gudang. Ibu sudah mengatur tugas masing-masing dan seperti tahun sebelumnya, saya mendapatkan bagian paling basah, kamar mandi.

Bagi kami, rutinitas tahunan seperti ini amatlah menyenangkan. Disitu terlihat kekompakan dan kebersamaan semua anggota keluarga untuk membersihkan istana kecil yang selama ini menjadi tempat kami bernaung, berteduh dan terlelap menikmati mimpi-mimpi sederhana kami. Walaupun sebenarnya, tanpa acara bebersih total semacam ini, meski sederhana namun istana kecil kami senantiasa terlihat asri dan bersih setiap harinya.

Dan ketika saya coba tanyakan itu kepada ibu, lembut bibirnya berucap, "Apa abang mau hari ini nggak mandi? Kita harus bersih setiap hari kan?"

"Iya, tapi kenapa ini berbeda dari hari lainnya?" tanyaku lagi

"Karena besok tamu istimewa akan tiba. Sepantasnya kita menyambutnya dengan cara yang istimewa juga," terang ibu kemudian.

Maka dimulailah tugasku. Sementara Abang dan adik-adik saya harus berkutat dengan debu di halaman depan, teras, juga gudang, saya menghabiskan waktu beberapa jam dengan kubangan air untuk membersihkan kamar mandi. Sepintas kamar mandi kami terlihat bersih, sehingga,

"Kamar mandi kita masih bersih kok bu ..." ujarku nakal untuk menghindari pekerjaan berat.

"Jangan tertipu dengan pandangan pertama. Yang terlihat bersih belum tentu benar-benar bersih. Coba perhatikan lebih dekat, banyak noda hitam di sudut-sudutnya ..." ajar ibu.

Ibu benar. Setelah kuperhatikan, banyak sekali noda hitam di celah-celah, sudut dan juga ruas keramik lantai kamar mandi. Segera kuambil peralatan pembersih seperti sikat lantai dan sabun pembersih.

Mulanya kusiram dengan air berkali-kali, tapi noda hitam itu tidak juga hilang dari dinding dan lantai. Hingga satu ember air habis, tak juga hilang. Ibu yang sejak tadi memperhatikan, berujar, "Tidak semua noda bisa hilang hanya dengan menyiramnya dengan air, sebanyak apa pun air yang Abang siapkan"

Lalu saya menyikat noda hitam itu. Sekali sikat tak hilang, berkali-kali kucoba, hanya sedikit. Masih banyak noda tersisa di lantai dan nampaknya sudah begitu merekat di dinding sehingga teramat sulit untuk dihilangkan. Suara ibu kembali terdengar, "Susah kan kalau noda tidak dibersihkan setiap hari? Noda-noda itu sebenarnya tidak terlihat, tapi justru karena tidak terlihat itu kita menganggap ruang ini tetap bersih. Karena tidak pernah dibersihkan, semakin hari noda itu semakin jelas pekatnya."

Tidak cukup dengan air dan sikat, saya pun menggunakan sabun pembersih untuk membantu menghilangkan noda-noda itu. Dan, setelah beberapa butir peluh menetes, akhirnya bersih juga kamar mandi itu. Saya dan ibu saling berpandangan lega memperhatikan hasilnya.

Sebelum keluar dari kamar mandi, lagi-lagi ibu bersuara, "Seperti ini lah sulitnya jika diri ini sudah dipenuhi dosa. Tidak cukup satu dua macam ibadah untuk bisa menghilangkannya. Semakin banyak kita berbuat salah, semestinya jauh lebih banyak perbuatan baik yang kita lakukan untuk membuat diri kita bersih."

Malam hari sebelum ibu membimbing kami dengan untaian doa dan belai lembut usapannya menjelang tidur, ibu berpesan, "Perbaiki diri kita setiap hari, karena kita melakukan kesalahan juga setiap hari."

***

Esoknya Ramadhan tiba. Kami semakin mengerti bahwa Ramadhan semakin indah dijalani dengan rumah yang bersih. Juga hati yang bersih. Sekali lagi ibu benar, noda datang tidak mengenal waktu.
 
Bayu Gautama
Dikutip dari:
http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=News&file=article&sid=425

Orang Sopan Semakin Langka

"Weyy... kalo nyeberang mata dipake donk...!!!" bentak supir angkot kepada seorang pejalan kaki setengah baya yang nyaris terserempet kendaraan tersebut. Saya yang berada di angkot tersebut tak tahu persis harus berbuat apa. Meski cukup sering mendengar umpatan serupa dari seorang pengendara mobil kepada pejalan kaki, saya tetap merasa tak semestinya mereka mengeluarkan kata-kata kasar semacam itu.
---------------------------------------------------------------------------------------
 


Suatu kali secara kebetulan saya pernah mendengar omelan seorang pejalan kaki yang terciprat air genangan sisa-sisa hujan yang dihempaskan oleh sebuah mobil dengan kecepatan tinggi. Serta merta, sederet sumpah serapah keluar yang kalau dibayangkan, isinya itu sangat mengerikan, seperti "Gue sumpahin tabrakan luh!" atau semacamnya. Bagaimana jika umpatan atau sumpah itu bernilai do'a di mata Allah? bukankah mereka tak bedanya seperti orang-orang yang terzalimi? Jadi, jangan sembarangan mengumpat seorang pejalan kaki yang belum tentu benar-benar salahnya. Bisa jadi, Anda yang justru bersalah.

Sebenarnya, ini soal etika berkendaraan di jalan umum. Namanya juga jalan umum, jadi siapapun tidak bisa merasa harus dipentingkan, siapapun tak boleh memaksakan kehendaknya, dan siapapun tak berhak atas jalan tersebut layaknya jalan milik pribadi.

Yang namanya jalan umum boleh digunakan oleh siapapun, pemilik kendaraan dari roda dua, tiga, empat sampai enam belas, atau pun pejalan kaki. Yang penting kan semuanya ada aturannya. Nah, ngomong-ngomong soal aturan, ternyata tidak semua etika berkendara di jalan masuk dalam aturan yang sudah ada.

Begini, saya pernah menumpang mobil seorang rekan sepulang kondangan. Namanya Edi. Malam itu terasa sangat segar, sehingga kami tak perlu memasang AC karena sore tadi Jakarta baru saja diguyur hujan yang lumayan deras. Mobil melaju tidak terlalu kencang ketika kami merasa mobil kami telah menghempaskan genangan air di pinggir jalan dan... mengenai seorang ibu pejalan kaki. Ciiiitttt!!! Edi segera menghentikan mobilnya dan mundur sejauh tidak kurang dari 70 meter dari genangan air tadi.

"Kena nggak?" tanya Edi. Yang dimaksud adalah, apakah hempasan mobilnya terhadap genangan air tersebut telah menyebabkan pejalan kaki tadi terciprat atau tidak. Agak sedikit ragu, saya katakan, "Kena...".

Sesampainya di depan ibu pejalan kaki tadi, Edi segera turun dan meminta maaf atas tindakannya tadi. Pejalan kaki yang tengah mengibas-ngibaskan tangannya ke beberapa bagian pakaiannya yang kotor terlihat tersenyum, apalagi setelah kami menawarkan diri untuk mengantarnya sampai ke tempat tujuannya.

Dalam perjalanan berikutnya, saya tanyakan kepada Edi tentang sikapnya tersebut, seraya memberikan asumsi bahwa ibu pejalan kaki tersebut terlihat ramah dan 'ikhlas', mungkin Edi tak perlu memundurkan mobilnya untuk meminta maaf pada pejalan kaki tersebut.

Sekarang coba Anda pikirkan kenapa saya terus tersenyum sampai di rumah setelah mendengar jawaban Edi seperti ini, "Kamu betul, mungkin ibu itu ikhlas dan tak marah, bahkan mungkin saya tak perlu berhenti setelah 70 meter dari genangan air tersebut. Tapi bagaimana kalau Allah yang tidak ikhlas, dan menjadikan 10 meter berikutnya adalah kesempatan terakhir saya mengendarai mobil ini?"

Hmm, Edi, Edi ... saya dengar, kalau sedang bersepeda atau naik motor, anak muda satu ini juga akan turun dan menuntun kendaraannya saat melewati orang-orang yang tengah duduk di pinggir jalan di sebuah gang, satu kebiasaan yang saya kira telah hilang sekitar 15 atau 20 tahun yang lalu.
Dikutip dari:
http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=News&file=article&sid=467#isi

Recent Comments