Friday, August 26, 2011

Why success will come from your Supply Chain


Written on Tuesday, 26 April 2011 01:53 WIB

Why success will come from your Supply Chain By Alex Rotenberg Supply chains are a dramatic way to double, triple, even increase your profit margins tenfold. Unfortunately many supply chain professionals look at the wrong side of the equation. When targeting cost reduction one must look at service, not at costs to improve the business situation. Below is an explanation of the reason why. Businesses globalize and technology spreads. This is nothing new. New suppliers from low-cost countries invade new markets as patents expire and cheaper versions can be offered to the customers. Whole markets become commodities and once loyal customers jump to cheaper options. Many would have a spontaneous reaction to cut costs. What if I were to tell you that a much better solution is to do the exact opposite? Instead of trying to analyze cost-base and try to match the competitors’ costs, my advice is companies should completely review their service offerings. Supply chains are a balance of service and costs but the larger chunk of these costs are hidden in the term 'service'. The lesson today: the fastest way to cut costs is by understanding the services you offer! By challenging the service offerings, new opportunities to reduce costs and generate extra revenue quickly emerge. The battle for service in many companies still has many unwritten rules, and unless you talk with customers you are doomed to work on cost-base only and miss these enormous opportunities. There is indeed a much better option than poor service at a low cost... and that is the right service at the right cost! The great news is that the more competitive your market is the more it pays off to review your service offerings. The math is very simple. Service reviews typically lead to 10 to 15% cost savings or extra revenue. If you still enjoy a 40% profit margin, a service review can increase this margin to 49%. You only make 20% margin? No problem, make it 39%. If you say 10% margin, I double it to 19%. A 5% margin triples to 14.5%. If you would only have a 1% margin, even better. You would get a tenfold increase of your margin: 10.9% after the review of your service offerings. The business case for a herbicide producer, my previous employer, which sells in large volumes in Brazil is exemplary. We could have implemented a traditional cost saving programme and we would have succeeded to cut costs with 1 or 2%. Nothing spectacular. Instead we started a cross-functional customer-driven initiative. And in 3 years time we made 15% cost savings a reality, or 5 to 7 million each year depending on the sold volumes! Because Supply Chain engages with the business, we started to understand what customers value and what they don't, and as a result, we saw ways to save USD 24 cents per litre in different areas like packaging, duties, logistics and pricing. Each cent in cost reduction we implemented gave the business 300,000 USD saving per year. This showed that review of the service offer led to millions of USD in savings per year. So, are we really able to separate the needs and wants for each customer and product? That is what customer-driven approaches are about. Unless your business understands how to eliminate lots of hidden service costs (Over-availability, Over-quality, Over-flexibility, Over-reliability and Over-delivery), your company will be doomed to scratch the surface of potentially huge cost savings. So why not explore all extra fee opportunities of generating new sources of revenue thanks to your supply chains? This is why success will come from your supply chain!
--------
Source from: http://sembadapratama.com/en/news-detail/49/why-success-will-come-from-your-supply-chain

Saturday, February 26, 2011

Sebelum Kontrak Berakhir

Oleh Imam Nur Suharno

Dikisahkan bahwa malaikat maut (Izrail) bertemu dengan Nabi Sulaiman AS. Ia datang dengan bentuk manusia sehingga tak seorang pun yang mengetahui kedatangannya selain Nabi Sulaiman. Saat itu Nabi Sulaiman sedang berkumpul dengan beberapa orang sahabatnya. Saat malaikat maut hendak pergi ia memandang salah seorang sahabat Nabi Sulaiman dengan pandangan yang aneh, lalu pergi.

Setelah malaikat maut pergi, sahabat Nabi Sulaiman itu bertanya, “Wahai Nabiyullah, mengapa ia memandangiku seperti itu?” Jawab Nabi Sulaiman, “Ketahuilah, dia itu adalah malaikat maut.”

Kemudian sahabat Nabi Sulaiman itu berkata, “Wahai Nabi, tiupkanlah angin dengan kencang, sehingga angin itu membawaku ke puncak negeri India, sesungguhnya aku berfirasat buruk.”

“Apakah engkau akan lari dari takdir jika maut akan menjemputmu?” tanya Nabi Sulaiman. “Sesunguhnya Allah memerintahkan kita untuk mencari sebab-sebabnya. Dan, aku yakin bahwa engkau akan mengabulkan permintaanku.” kata sahabat Nabi Sulaiman itu. Kemudian, Nabi Sulaiman memerintahkan kepada angin untuk membawanya ke tempat yang diinginkan.

Selang beberapa saat malaikat maut datang, Nabi Sulaiman bertanya, “Apa urusanmu dengan salah seorang sahabatku, mengapa engkau pandangi dia seperti itu?”

Malaikat maut menjawab, “Aku memandanginya seperti itu dikarenakan ia tercatat didaftar kematian bahwa ia akan mati di sebuah negeri di India. Aku heran, bagaimana ia dapat pergi ke sana sedangkan ia ada bersamamu? Kemudian, di tempat yang telah ditentukan, pada waktu yang telah digariskan kulihat ia datang kepadaku dan kucabut nyawanya.”

Kisah di atas mengingatkan kepada kita bahwa malaikat maut akan selalu mengintai siapa saja yang masa kontraknya akan berakhir di dunia ini. Jika masa kontraknya habis maka tak seorang pun dapat lari darinya. “.… Maka, apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS al-A’raf [7]: 34).

Dalam ayat lain Allah SWT menegaskan, “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.” (QS Qaf [50]: 19).
Lari kepada dokter bila sakit menimpa, lari kepada makan bila rasa lapar datang, lari kepada minum bila rasa haus menghampiri. Lalu, lari kepada siapa bila kematian akan menjemputmu?

Sungguh, tak seorang pun dapat lari darinya sekalipun berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS an-Nisa’ [4]: 78).

Oleh karena itu, sebelum masa kontrak berakhir, “Bersegeralah kamu beramal sebelum datang tujuh perkara: kemiskinan yang memperdaya, kekayaan yang menyombongkan, sakit yang memayahkan, tua yang melemahkan, kematian yang memutuskan, dajjal yang menyesatkan, dan kiamat yang sangat berat dan menyusahkan.” (HR Tirmidzi). Wallahu a’lam
----------------------------------
 
Sumber : 

Monday, February 21, 2011

Namimah (Adu Domba)

Oleh: Ummu Rummaan
Berbicara mengenai bahaya lisan memang tidak ada habisnya. Lisan, hanya ada satu di tubuh, tapi betapa besar bahaya yang ditimbulkan olehnya jika sang pemilik tak bisa menjaganya dengan baik. Ada pepatah yang mengatakan “mulutmu adalah harimaumu”, ini menunjukkan betapa bahayanya lisan ketika kita tidak menjaganya, sedangkan pepatah jawa mengatakan ajining diri ono ing lati, yang maknanya bahwa nilai seseorang ada pada lisannya, nilainya akan baik jika lisannya baik, atau sebaliknya.

Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi jaminan surga pada seorang muslim yang dapat menjamin lisannya. Dari Sahal bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menjamin untukku apa yang ada di antara kedua dagunya (lisan) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan/farji), maka aku akan menjamin untuknya surga.” (HR. Al-Bukhari)

Salah satu bentuk kejahatan lisan adalah namimah (adu domba). Kata adu domba identik dengan kebencian dan permusuhan. Sebagian dari kita yang mengetahui bahaya namimah mungkin akan mengatakan, “Ah, saya tidak mungkin berbuat demikian…” Tapi jika kita tak benar-benar menjaganya ia bisa mudah tergelincir. Apalagi ketika rasa benci dan hasad (dengki) telah memenuhi hati. Atau meski bisa menjaga lisan dari namimah, akan tetapi tidak kita sadari bahwa terkadang kita terpengaruh oleh namimah yang dilakukan seseorang. Oleh karena itu kita benar-benar harus mengenal apakah itu namimah.

Definisi Namimah

Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan bahwa namimah adalah mengutip suatu perkataan dengan tujuan untuk mengadu domba antara seseorang dengan si pembicara. Adapun Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalaani rahimahullah mengatakan bahwa namimah tidak khusus itu saja. Namun intinya adalah membeberkan sesuatu yang tidak suka untuk dibeberkan. Baik yang tidak suka adalah pihak yang dibicarakan atau pihak yang menerima berita, maupun pihak lainnya. Baik yang disebarkan itu berupa perkataan maupun perbuatan. Baik berupa aib ataupun bukan.

Hukum dan Ancaman Syariat Terhadap Pelaku Namimah

Namimah hukumnya haram berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Banyak sekali dalil-dalil yang menerangkan haramnya namimah dari Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma’. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang artinya, “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah.” (QS. Al Qalam: 10-11)
Dalam sebuah hadits marfu’ yang diriwayatkan Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu disebutkan, “Tidak akan masuk surga bagi Al Qattat (tukang adu domba).” (HR. Al Bukhari)

Ibnu Katsir menjelaskan, “Al qattat adalah orang yang menguping (mencuri dengar pembicaraan) tanpa sepengetahuan mereka, lalu ia membawa pembicaraan tersebut kepada orang lain dengan tujuan mengadu domba.”

Perkataan “Tidak akan masuk surga…” sebagaimana disebutkan dalam hadist di atas bukan berarti bahwa pelaku namimah itu kekal di neraka. Maksudnya adalah ia tidak bisa langsung masuk surga. Inilah madzhab Ahlu Sunnah wal Jama’ah untuk tidak mengkafirkan seorang muslim karena dosa besar yang dilakukannya selama ia tidak menghalalkannya (kecuali jika dosa tersebut berstatus kufur akbar semisal mempraktekkan sihir -ed).

Pelaku namimah juga diancam dengan adzab di alam kubur. Ibnu Abbas meriwayatkan, “(suatu hari) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua kuburan lalu berkata, lalu bersabda, “Sesungguhnya penghuni kedua kubur ini sedang diadzab. Dan keduanya bukanlah diadzab karena perkara yang berat untuk ditinggalkan. Yang pertama, tidak membersihkan diri dari air kencingnya. Sedang yang kedua, berjalan kesana kemari menyebarkan namimah.” (HR. Al-Bukhari)

Sikap Terhadap Pelaku Namimah

Imam An-Nawawi berkata, “Dan setiap orang yang disampaikan kepadanya perkataan namimah, dikatakan kepadanya: “Fulan telah berkata tentangmu begini begini. Atau melakukan ini dan ini terhadapmu,” maka hendaklah ia melakukan enam perkara berikut:
  1. Tidak membenarkan perkataannya. Karena tukang namimah adalah orang fasik.
  2. Mencegahnya dari perbuatan tersebut, menasehatinya dan mencela perbuatannya.
  3. Membencinya karena Allah, karena ia adalah orang yang dibenci di sisi Allah. Maka wajib membenci orang yang dibenci oleh Allah.
  4. Tidak berprasangka buruk kepada saudaranya yang dikomentari negatif oleh pelaku namimah.
  5. Tidak memata-matai atau mencari-cari aib saudaranya dikarenakan namimah yang didengarnya.
  6. Tidak membiarkan dirinya ikut melakukan namimah tersebut, sedangkan dirinya sendiri melarangnya. 
Janganlah ia menyebarkan perkataan namimah itu dengan mengatakan, “Fulan telah menyampaikan padaku begini dan begini.” Dengan begitu ia telah menjadi tukang namimah karena ia telah melakukan perkara yang dilarang tersebut.”.
Bukan Termasuk Namimah

Apakah semua bentuk berita tentang perkataan/perbuatan orang dikatakan namimah? Jawabannya, tidak. Bukan termasuk namimah seseorang yang mengabari orang lain tentang apa yang dikatakan tentang dirinya apabila ada unsur maslahat di dalamnya. Hukumnya bisa sunnat atau bahkan wajib bergantung pada situasi dan kondisi. Misalnya, melaporkan pada pemerintah tentang orang yang mau berbuat kerusakan, orang yang mau berbuat aniaya terhadap orang lain, dan lain-lain. An-Nawawi rahimahullah berkata, “Jika ada kepentingan menyampaikan namimah, maka tidak ada halangan menyampaikannya. Misalnya jika ia menyampaikan kepada seseorang bahwa ada orang yang ingin mencelakakannya, atau keluarga atau hartanya.”

Pada kondisi seperti apa menyebarkan berita menjadi tercela? Yaitu ketika ia bertujuan untuk merusak. Adapun bila tujuannya adalah untuk memberi nasehat, mencari kebenaran dan menjauhi/mencegah gangguan maka tidak mengapa. Akan tetapi terkadang sangat sulit untuk membedakan keduanya. Bahkan, meskipun sudah berhati-hati, ada kala niat dalam hati berubah ketika kita melakukannya. Sehingga, bagi yang khawatir adalah lebih baik untuk menahan diri dari menyebarkan berita.

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Seseorang selayaknya memikirkan apa yang hendak diucapkannya. Dan hendaklah dia membayangkan akibatnya. Jika tampak baginya bahwa ucapannya akan benar-benar mendatangkan kebaikan tanpa menimbulkan unsur kerusakan serta tidak menjerumuskan ke dalam larangan, maka dia boleh mengucapkannya. Jika sebaliknya, maka lebih baik dia diam.”

Bagaimana Melepaskan Diri dari Perbuatan Namimah

Ya ukhty, janganlah rasa tidak suka atau hasad kita pada seseorang menjadikan kita berlaku jahat dan tidak adil kepadanya, termasuk dalam hal ini adalah namimah. Karena betapa banyak perbuatan namimah yang terjadi karena timbulnya hasad di hati. Lebih dari itu, hendaknya kita tidak memendam hasad (kedengkian) kepada saudara kita sesama muslim. Hasad serta namimah adalah akhlaq tercela yang dibenci Allah karena dapat menimbulkan permusuhan, sedangkan Islam memerintahkan agar kaum muslimin bersaudara dan bersatu bagaikan bangunan yang kokoh.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian saling mendengki, saling membenci, saling bermusuhan, dan janganlah kamu menjual barang serupa yang sedang ditawarkan saudaramu kepada orang lain, dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim)

Berusaha dan bersungguh-sungguhlah untuk menjaga lisan dan menahannya dari perkataan yang tidak berguna, apalagi dari perkataan yang karenanya saudara kita tersakiti dan terdzalimi. Bukankah mulut seorang mukmin tidak akan berkata kecuali yang baik.

Semoga Allah Ta’ala selalu melindungi kita dari kejahatan lisan kita dan tidak memasukkan kita ke dalam golongan manusia yang merugi di akhirat dikarenakan lisan yang tidak terjaga, “Allahumma inni a’uudzubika min syarri sam’ii wa min syarri bashori wa min syarri lisaanii wa min syarri maniyyii.” (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari kejahatan pendengaranku, penglihatanku, lisanku, hatiku dan kejahatan maniku.)

Diringkas dari Petaka Lisan Menurut A-Qur’an dan Sunnah
(Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthaani)
---------------------------------
Sumber:
Gambar diambil dari:

Saturday, February 19, 2011

Indahnya Ukhuwah, Indahnya Hidup Ini

Saya pernah menuliskan sebuah artikel yang berjudul “Aku ingin memiliki sahabat seperti mereka”. Sebuah gambaran, betapa berbeda sifat dan kepribadian yang dimiliki oleh mereka tapi mereka mampu memperat dan mengokohkan ukhuwah yang dijalin. Mereka bagaikan satu tubuh yang saling mengisi tanpa membedakan derajat dan kekayaan yang dimiliki. Karena tali yang mengikat mereka bukanlah karena suatu kelompok, golongan, ataupun kesamaan prinsip, tapi yang mengikat persaudaraan mereka adalah Allah.

Betapa indahnya hidup ini jika kita bisa mempererat tali ukhuwah diantara kita sehingga perbedaan yang terjadi tak akan mampu mempecah belah persaudaraan kita. sebagaimana Allah berfirman dalam Al Quran, “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” Dan Rasulullahpun menambahkan “Orang mukmin itu ibarat satu tubuh, apabila ada anggota tubuhnya sakit maka seluruh tubuh akan merasakan sakitnya.” Di hadis lain pun Rasul bersabda, “Barangsiapa yang hendak merasakan manisnya iman, hendaklah ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri”. Dan Rasul menghimbau agar kita saling menjaga ukhuwah, “Sesungguhnya seorang muslim apabila bertemu saudaranya yang muslim, lalu ia memegang tangannya (berjabat tangan), gugurlah dosa-dosa keduanya sebagaimana gugurnya daun dari pohon kering yang ditiup angin kencang. Sungguh diampuni dosa mereka berdua, meski sebanyak buih dilautan.”(HR.Tabrani).

Ada sebuah kisah yang mungkin bisa kita teladani dalam menjaga ukhuwah. Kisah yang terjadi antara pemimpin NU (K.H Idham Cholid) dan pemimpin Muhammadiyah (Buya Hamka) ketika sedang melakukan perjalanan ke Tanah Suci, kurang lebih seperti ini : ketika mereka sedang dalam perjalanan menuju tanah suci didalam sebuah kapal laut, saat melakukan sholat subuh berjamaah, para pengikut Nadhlatul Ulama heran saat Idham Cholid (tokoh NU) yang mempunyai kebiasaan menggunakan doa qunut dalam kesehariannya, malah tidak memakai doa qunut tatkala Buya hamka dan sebagian pengikut Muhammadiyah menjadi makmumnya.

Demikian pula sebaliknya, tatkala Buya hamka mengimami sholat subuh, para pengikut Muhammadiyah merasa heran ketika Buya Hamka membaca doa qunut karena Idham Cholid dan sebagian pengikut NU menjadi makmumnya. Mereka malah berpelukan mesra setelah sholat bagaikan saudara seiman yang saling menguatkan, saling menghormati, dan saling berkasih sayang. Jujur gue terharu membaca kisah ini. Betapa kebesaran jiwa mereka mampu menjaga ukhuwah yang terjalin, padahal mereka memiliki perbedaan-perbedaan yang mendasarinya. Mereka mampu menjaga perasaan diantara keduanya. Kita bandingkan dengan saat ini, dimana masing-masing kelompok merasa dirinya sendiri paling benar dan kadang malah memaksakan pendapatnya atas yang lain.

Mari kita bersatu, karena perbedaan itu adalah rahmat. Dan islam adalah rahmatan lil alamin.....
Wallahu a’lam bishowab
---------------------------------------

Sumber (dengan sedikit editan bahasa):

Belajar Dari Penjual Kerupuk

Kisah ini diceritakan oleh Bp Chappy Hakim (mantan KSAU). Pada tahun 1969, saya mengikuti latihan para dasar, terjun payung statik di pangkalan Udara Margahayu Bandung. Menjalani latihan yang cukup berat bersama dengan lebih kurang 120 orang dan ditampung dalam dua barak panjang tempat latihan terjun tempur.

Setiap makan pagi, siang dan malam hari yang dilaksanakan di barak, kami memperoleh makanan ransum latihan yang diberikan dengan ompreng dan atau rantang standar prajurit. Diujung barak tersedia drum berisi sayur, dan disamping nya ada sebuah karung plastik berisi kerupuk milik seorang ibu setengah baya warga sekitar asrama prajurit yang dijual kepada siapa saja yang merasa perlu untuk menambah lauk makanan jatah yang terasa kurang lengkap bila tidak ada kerupuk. Sang ibu paruh baya ini, tidak pernah menunggu barang dagangannya.

Setiap pagi, siang dan malam menjelang waktu makan dia meletakkan karung plastik berisi krupuk dan disamping nya diletakkan pula kardus bekas rinso untuk uang, bagi orang yang membeli kerupuknya. Nanti setelah selesai waktu makan dia datang dan mengemasi karung plastik dengan sisa kerupuk dan kardus berisi uang pembayar kerupuk.

Iseng, saya tanyakan, apakah ada yang nggak bayar Bu? Jawabannya cukup mengagetkan, dia percaya kepada semua siswa latihan terjun, karena dia sudah bertahun-tahun berdagang kerupuk di barak tersebut dengan cara demikian. Hanya meletakkan saja, tidak ditunggu dan nanti setelah semuanya selesai makan dia baru datang lagi untuk mengambil sisa kerupuk dan uang hasil jualannya. Selama itu, dia tidak pernah mengalami defisit. Artinya tidak ada satu pun pembeli kerupuk yang tidak bayar. Setiap orang memang dengan kesadaran mengambil kerupuk, lalu membayar sesuai harganya. Bila dia harus bayar dengan uang yang ada kembaliannya, dia bayar dan mengambil sendiri uang kembaliannya di kotak rinso kosong tersebut.

Demikian seterusnya. Beberapa pelatih terjun, bercerita bahwa dalam pengalamannya, semua siswa terjun payung yang berlatih disitu dan menginap dibarak latihan tidak ada yang berani mengambil kerupuk dan tidak bayar. Mereka takut, bila melakukan itu, khawatir payung nya tidak mengembang dan akan terjun bebas serta mati berkalang tanah.

Sampai sekarang, saya selalu berpikir, mengapa orang sebenarnya bisa jujur dan dapat dipercaya, hanya karena pintu kematian berada didepan wajahnya. Yang saya pikirkan, bagaimana caranya membuat manusia setiap saat berada dalam kondisi atau suasana latihan terjun, mungkinkah?
----------------------------------
Source:
Gambar dari: http://djajendra-motivator.com/?p=545 
                    @Tondano, Minahasa

Pesan Hidup Dari Bocah Penjual Koran

Dari tadi pagi hujan mengguyur kota tanpa henti, udara yang biasanya sangat panas, hari ini terasa sangat dingin. Di jalanan hanya sesekali mobil yang lewat, hari ini hari libur membuat orang kota malas untuk keluar rumah.

Di perempatan jalan, Umar, seorang anak kecil berlari-lari menghampiri mobil yang berhenti di lampu merah, dia membiarkan tubuhnya terguyur air hujan, hanya saja dia begitu erat melindungi koran dagangannya dengan lembaran plastik.

“Korannya bu !” seru Umar berusaha mengalahkan suara air hujan.

Dari balik kaca mobil si ibu menatap dengan kasihan, dalam hatinya dia merenung anak sekecil ini harus berhujan-hujan untuk menjual koran. Dikeluarkannya satu lembar dua puluh ribuan dari lipatan dompet dan membuka sedikit kaca mobil untuk mengulurkan lembaran uang.

“Mau koran yang mana bu?, tanya Umar dengan riang.
”Nggak usah, ini buat kamu makan, kalau koran tadi pagi aku juga sudah baca”, jawab si ibu.

Si Umar kecil itu tampak terpaku, lalu diulurkan kembali uang dua puluh ribu yang dia terima, ”Terima kasih bu, saya menjual koran, kalau ibu mau beli koran silakan, tetapi kalau ibu memberikan secara cuma-cuma, mohon maaf saya tidak bisa menerimanya”, Umar berkata dengan muka penuh ketulusan.

Dengan geram si ibu menerima kembali pemberiannya, raut mukanya tampak kesal, dengan cepat dinaikkannya kaca mobil. Dari dalam mobil dia menggerutu ”Udah miskin sombong!”. Kakinya menginjak pedal gas karena lampu menunjukkan warna hijau. Meninggalkan Umar yang termenung penuh tanda tanya.Umar berlari lagi ke pinggir, dia mencoba merapatkan tubuhnya dengan dinding ruko tempatnya berteduh.Tangan kecilnya sesekali mengusap muka untuk menghilangkan butir-butir air yang masih menempel. Sambil termenung dia menatap nanar rintik-rintik hujan di depannya, ”Ya Tuhan, hari ini belum satupun koranku yang laku”, gumamnya lemah.

Hari beranjak sore namun hujan belum juga reda, Umar masih saja duduk berteduh di emperan ruko, sesekali tampak tangannya memegangi perut yang sudah mulai lapar.Tiba-tiba didepannya sebuah mobil berhenti, seorang bapak dengan bersungut-sungut turun dari mobil menuju tempat sampah,”Tukang gorengan sialan, minyak kaya gini bisa bikin batuk”, dengan penuh kebencian dicampakkannya satu plastik gorengan ke dalam tong sampah, dan beranjak kembali masuk ke mobil. Umar dengan langkah cepat menghampiri laki-laki yang ada di mobil. ”Mohon maaf pak, bolehkah saya mengambil makanan yang baru saja bapak buang untuk saya makan”, pinta Umar dengan penuh harap. Pria itu tertegun, luar biasa anak kecil di depannya. Harusnya dia bisa saja mengambilnya dari tong sampah tanpa harus meminta ijin. Muncul perasaan belas kasihan dari dalam hatinya.

“Nak, bapak bisa membelikan kamu makanan yang baru, kalau kamu mau”
”Terima kasih pak, satu kantong gorengan itu rasanya sudah cukup bagi saya, boleh khan pak?, tanya Umar sekali lagi.”Bbbbbooolehh”, jawab pria tersebut dengan tertegun. Umar berlari riang menuju tong sampah, dengan wajah sangat bahagia dia mulai makan gorengan, sesekali dia tersenyum melihat laki-laki yang dari tadi masih memandanginya.

Dari dalam mobil sang bapak memandangi terus Umar yang sedang makan. Dengan perasaan berkecamuk di dekatinya Umar.

”Nak, bolehkah bapak bertanya, kenapa kamu harus meminta ijinku untuk mengambil makanan yang sudah aku buang?, dengan lembut pria itu bertanya dan menatap wajah anak kecil di depannya dengan penuh perasaan kasihan.”Karena saya melihat bapak yang membuangnya, saya akan merasakan enaknya makanan halal ini kalau saya bisa meminta ijin kepada pemiliknya, meskipun buat bapak mungkin sudah tidak berharga, tapi bagi saya makanan ini sangat berharga, dan saya pantas untuk meminta ijin memakannya ”, jawab si anak sambil membersihkan bibirnya dari sisa minyak goreng.

Pria itu sejenak terdiam, dalam batinnya berkata, anak ini sangat luar biasa. ”Satu lagi nak, aku kasihan melihatmu, aku lihat kamu basah dan kedinginan, aku ingin membelikanmu makanan lain yang lebih layak, tetapi mengapa kamu menolaknya”. Si anak kecil tersenyum dengan manis,
”Maaf pak, bukan maksud saya menolak rejeki dari Bapak. Buat saya makan sekantong gorengan hari ini sudah lebih dari cukup. Kalau saya mencampakkan gorengan ini dan menerima tawaran makanan yang lain yang menurut Bapak lebih layak, maka sekantong gorengan itu menjadi mubazir, basah oleh air hujan dan hanya akan jadi makanan tikus.”

”Tapi bukankah kamu mensia-siakan peluang untuk mendapatkan yang lebih baik dan lebih nikmat dengan makan di restoran di mana aku yang akan mentraktirnya”, ujar sang laki-laki dengan nada agak tinggi karena merasa anak di depannya berfikir keliru.

Umar menatap wajah laki-laki didepannya dengan tatapan yang sangat teduh,”Bapak!, saya sudah sangat bersyukur atas berkah sekantong gorengan hari ini. Saya lapar dan bapak mengijinkan saya memakannya”, Umar memperbaiki posisi duduknya dan berkata kembali, ”Dan saya merasa berbahagia, bukankah bahagia adalah bersyukur dan merasa cukup atas anugerah hari ini, bukan menikmati sesuatu yang nikmat dan hebat hari ini tetapi menimbulkan keinginan dan kedahagaan untuk mendapatkannya kembali di kemudian hari.” Umar berhenti berbicara sebentar, lalu diciumnya tangan laki-laki di depannya untuk berpamitan. Dengan suara lirih dan tulus Umar melanjutkan kembali,”Kalau hari ini saya makan di restoran dan menikmati kelezatannya dan keesokan harinya saya menginginkannya kembali sementara bapak tidak lagi mentraktir saya, maka saya sangat khawatir apakah saya masih bisa merasakan kebahagiaannya”.

Pria tersebut masih saja terpana, dia mengamati anak kecil di depannya yang sedang sibuk merapikan koran dan kemudian berpamitan pergi.”Ternyata bukan dia yang harus dikasihani, Harusnya aku yang layak dikasihani, karena aku jarang bisa berdamai dengan hari ini”
-------------------------------------

Siapa Ibunya?

Selesai berlibur di kampung, saya harus kembali ke kota. Mengingat jalan tol yang juga padat, saya menyusuri jalan lama. Saya singgah sebentar direstoran untuk istirahat. Saat memesan makanan, seorang anak berusia kira-kira 12 tahun menghampiri saya.

“Abang mau beli kue?" Katanya sambil tersenyum. Sambil ia membuka daun penutup dagangannya . "Tidak dik....abang sudah pesan makanan," jawab saya. Dia berlalu. Begitu pesanan tiba, saya terus menikmatinya. Lebih kurang 20 menit kemudian saya melihat anak tadi menghampiri pelanggan lain, sepasang suami istri. Mereka juga menolak, dia juga berlalu.
Dia pergi, tapi cuma disekitar restoran. Sambil terus menawarkan dagangannya dengan kata-kata yang sangat santun budi bahasanya.
Pemilik restoran itupun tak merasa keberatan dia keluar masuk restorannya menemui pelanggan. Sambil memperhatikan, terbersit rasa kagum dan kasihan di hati saya melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak nampak keluh kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya, sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya.

Setelah membayar, saya terus pergi ke mobil. Anak itu saya lihat berada agak jauh di deretan kedai yang sama. Saya buka pintu, membetulkan duduk dan menutup pintu. Belum sempat saya menghidupkan mesin, anak tadi berdiri di tepi mobil. Dia menghadiahkan sebuah senyuman. Saya turunkan cermin. Membalas senyumannya. "Abang sudah kenyang, tapi mungkin abang perlukan kue saya untuk adik-adik abang, ibu atau ayah abang," katanya sopan sekali sambil tersenyum. Dan membuka penutup dagangannya kembali.
Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja. Perasaan iba saya muncul. Lantas saya buka dompet, dan mengulurkan selembar uang Rp20.000,- padanya. "Ambil ini dik! Abang sedekah ....tak usah abang beli kue itu." saya berkata ikhlas karena perasaan kasihan. Anak itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima kasih terus berjalan kembali ke kaki lima deretan kedai. Saya gembira dapat membantunya.

Setelah mesin mobil saya hidupkan. Saya memundurkan. Alangkah terperanjatnya saya melihat anak itu mengulurkan Rp 20.000,- pemberian saya itu kepada seorang pengemis yang buta kedua-dua matanya. Saya terkejut, saya hentikan mobil, memanggil anak itu. "Kenapa bang mau beli kue kah?" tanyannya.

"Kenapa adik berikan duit abang tadi pada pengemis itu? Duit itu abang berikan untuk adik!" kata saya tanpa menjawab pertanyaannya.
"Bang, saya tak bisa ambil duit itu. Emak marah kalau dia tahu saya mengemis. Kata emak kita mesti bekerja mencari nafkah karena Allah. Kalau dia tahu saya bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masih banyak, mak pasti marah. Kata mak mengemis kerja orang yang tak berupaya, saya masih kuat bang!" katanya begitu lancar.

Saya heran sekaligus kagum dengan pandangan hidup anak itu. Tanpa banyak soal saya terus bertanya berapa harga semua kue dalam bakul itu.
"Abang mau beli semua kah?" dia bertanya dan saya cuma mengangguk. Lidah saya kelu mau berkata. "Rp 25.000,- saja bang....." Selepas dia memasukkan satu persatu kuenya ke dalam plastik, saya ulurkan Rp 25.000,-. Dia mengucapkan terima kasih dan terus pergi. Saya perhatikan dia hingga hilang dari pandangan.

Dalam perjalanan, saya terus memikirkannya. Siapakah dia? Siapakah wanita berhati mulia yang melahirkan dan mendidiknya? Terus terang saya katakan, saya beli kuenya bukan lagi atas dasar kasihan, tetapi rasa kagum dengan sikapnya yang dapat menjadikan kerjanya suatu penghormatan. Sesungguhnya saya kagum dengan sikap anak itu. Dia menyadarkan saya, siapa kita sebenarnya
------------------------------------------
Sumber:

Tuesday, February 08, 2011

Kisah Lukman Mendidik Anak

Luqman mengajak anaknya kepasar dengan membawa keledai. Awalnya Luqman yang naik keledai itu. Lewatlah di suatu desa. Orang-orang disitu berteriak mencemooh. “Lihatlah itu, seorang Bapak yang tega pada anaknya. Udara panas begini, anaknya disuruh jalan kaki sedang Bapaknya enak-enak di atas keledai.”. 

“Catat itu anakku “kata Luqman, kemudian ganti dia yang berjalan sedang anaknya dinaikkan keledai. 

Lewatlah mereka di satu desa lagi. Orang-orang di desa itu melihat mereka dengan mencemooh,”Lihat itu , jaman sudah edan, itulah contoh anak durhaka pada orang tua, anaknya enak-enak naik keledai, sedang Bapaknya yang sudah tua disuruh jalan kaki diudara panas seperti ini”.

”Catat itu anakku”, kata Luqman lagi. Kini, dua-duanya berjalan kaki. Jadi iring-iringan bertiga dengan keledainya berjalan kaki. 

Lewatlah mereka di satu desa. Orang-orang di desa itu mencemooh, ”Lihat itu, orang-orang bodoh, mereka bercapek-capek jalan kaki sementara ada tunggangan keledai dibiarkan saja”.

”Catat itu anakku”kata Luqman . Mereka mencari bambu panjang, dan sekarang keledainya mereka panggul berdua.

Lewatlah mereka disatu desa lain.  Orang-orang di situ melihat mereka dan mencemooh,”Lihat itu Bapak dan anak sama-sama gila, Keledai tidak apa-apa dipanggul. Enaklah jadi keledainya.” 

Lukman berkata pada anaknya,” Catat itu waahai anakku. Kalau engkau menuruti omongan orang-orang, maka tidak akan pernah benar. Maka kuatkanlah keyakinanmu. 
--------

Sumber:
Berbagai sumber

Monday, February 07, 2011

Damai Bersama-Mu

 

Aku termenung dibawah mentari
Diantara megahnya alam ini
Menikmati indahnya kasihMu
Kurasakan damainya hatiku

SabdaMu bagai air yg mengalir
Basahi panas terik dihatiku
Menerangi semua jalanku
Kurasakan tentramnya hatiku

Reff:
Jangan biarkan damai ini pergi
Jangan biarkan semuanya berlalu
Hanya padaMu Tuhan tempatku berteduh
dari semua kepalsuan dunia

Bilaku jauh dari diriMu
Akan kutempuh semua perjalanan
Agar selalu ada dekatMu
Biarku rasakan lembutnya kasihMu

Repeat  ke Reff

Bilaku jauh dari diriMu
Akan kutempuh semua perjalanan
Hanya padaMu Tuhan tempatku berteduh
Dari semua kepalsuan dunia
Dari semua kepalsuan dunia
Dari semua kepalsuan - kepalsuan dunia
------------------------------------------------
Sumber: 

Monday, January 31, 2011

Menemukan Makna Belajar

by Muhammad Noer @ 2 May 2010
Berikut adalah tulisan saya 11 tahun lalu yang pernah dimuat di buletin Filosofia, Universitas Indonesia pada bulan Maret tahun 1999. Menyambut hari Pendidikan, saya menemukan kembali tulisan ini dan ingin berbagi dengan Anda. Tulisan ini ditulis oleh mahasiswa untuk mahasiswa dan mewakili pemikiran saya di masa itu. Sedikit banyaknya ada yang masih relevan untuk saat ini meskipun ada pula yang sudah berbeda. Tulisan asli dari buletin dapat Anda lihat di bagian akhir.
Saya juga memberikan link yang relevan pada kata kunci dalam tulisan ini ke artikel-artikel yang terkait. Jika Anda tertarik, silakan klik dan baca artikel yang berhubungan tersebut.

Muhammad Noer
######

Setiap orang belajar. Anak-anak, mahasiswa, bahkan orang tua tak terkecuali. Setiap manusia belajar dengan caranya sendiri. Ada yang belajar dengan cara menghadiri
perkuliahan, ada yang banyak membaca buku apa saja, serta ada yang belajar dari cerita dan pengalaman hidup orang. Belajar merupakan tradisi umat manusia.

Sebagai seorang mahasiswa, apa yang terbayang di benak Anda ketika mendengar kata belajar? Mungkin jawabannya bisa berbeda-beda. Tergantung cara pandang kita terhadap belajar itu sendiri. Sebagian membayangkan duduk dan mendengarkan ucapan dosen sambil mengantuk. Tugas-tugas yang bertumpuk. Ancaman mendapat nilai rendah atau malah di-DO.

Setidaknya ada beberapa hal yang disepakati. Pertama belajar bukanlah pekerjaan yang meyenangkan. Kedua belajar Anda lakukan seringkali karena terpaksa. Apakah terpaksa lulus, atau terpaksa supaya dapat ijazah. Belajar menjadi kehilangan maknanya.

Boleh saja Anda membantah pemyataan di atas. Tapi saya akan membuktikan bahwa Anda tidak lebih baik dan seorang bayi yang juga belajar seperti Anda.

Pernahkah Anda memperhatikan seorang bayi belajar berjalan? Dengan keberanian yang dimilikinya, ia melangkahkan kaki selangkah demi selangkah. Namun apa hendak dikata bayi tersebut jatuh tersungkur. Tapi, ia pantang menyerah. Tersungkur satu kali, dua kali, bahkan puluhan kali tidak membuatnya jera untuk terus melangkah dan melangkah. Akhirnya, dalam waktu yang relatif singkat sang bayi sudah dapat berjalan sendiri.

Bagaimanakah bayi tersebut bisa belajar berjalan dengan sukses? Pertanyaan ini cukup menarik untuk dijawab. Seorang bayi tidak pernah diinstruksikan oleh orang tuanya atau siapa saja untuk belajar berdiri tegak, menjaga keseimbangan, atau menyuruhnya berjalan pelan-pelan supaya tidak jatuh. Tidak, sekali-kali tidak. Bayi tidak pernah diberi bimbingan macam-macam. Padahal berjalan adalah suatu kegiatan kompleks yang merupakan gabungan dari koordinasi gerak tubuh, keseimbangan dan kestabilan. Bayi itu temyata berhasil melakukan tugas sulit tersebut tanpa mendapatkan petunjuk teknis yang dibutuhkan.

Sedikitnya ada dua hal yang membuat sang bayi berhasil. Pertama, ia tidak pemah mengenal konsep kegagalan. Ia hanya tahu untuk mencoba dan mencoba belajar dari pengalamannya sendiri. Ia tidak mau tersungkur untuk selama-lamanya. Kedua, sang bayi selalu mendapat dukungan positif. Ketika ia jatuh orangtuanya berkata, “Ayo nak berdiri lagi. Mama akan membantumu.” Dan ketika ia berhasil, semua orang bergembira dan memberi selamat atas keberhasilannya.

Sekarang mari kita bandingkan dengan apa yang terjadi dengan diri Anda sekarang. Ketika dosen mulai menerangkan pelajaran, mungkin Anda sudah berpikir kapan pelajaran akan usai. Ketika tugas diberikan, Anda mungkin dongkol dengan dosen yang dianggap kelewatan dalam memberi tugas. Dan saat menjelang ujian, jika Anda termasuk golongan mahasiswa kebanyakan, Anda akan mulai sibuk mencari fotokopi catatan di sana-sini, pinjam buku di perpustakaan, dan mulai menyiapkan kopi buat begadang. Dan ketika ujian berlangsung, Anda merasakan tekanan yang luar biasa. Belajar menjadi sebuah beban yang terpaksa Anda lakukan. Anda belajar karena hal itu sebuah tradisi. Anda belajar karena ingin lulus, bukan karena Anda memang mencintai belajar. Cara dan gaya Anda belajar tidak lebih baik dari apa yang bisa dilakukan oleh seorang bayi. Semakin meningkatnya umur bukannya memberikan Anda cara dan gaya belajar yang lebih kreatif. Hari demi hari, Anda terjebak dalam rutinitas belajar yang membosankan.

Setelah lulus apa yang terjadi? Ternyata pasar tenaga kerja sering kesal dengan para fresh graduate ini. Para lulusan dianggap tidak memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang cukup untuk menghadapi dunia nyata yang harus dihadapinya. Anda harus ditraining kembali untuk bekerja. Padahal Anda telah belajar bertahun-tahun. Enam tahun untuk SD, tiga tahun untuk SMP, tiga tahun untuk SMA dan sekitar empat sampai enam tahun di perguruan tinggi.

Tapi itulah yang terjadi. Hasil belajar Anda tidak dihargai. Anda hanya dihargai dari selembar ijazah sebagai prasyarat untuk melamar kerja. Selebihnya, Anda harus bersaing lagi, Anda harus dites lagi dan akhirnya, Anda malah di-training kembali.

Temyata, ada yang salah dalam proses pendidikan kita sekarang. Seorang sarjana teknik jadi pengusaha. Lulusan ekonomi jadi wartawan. Tamatan ilmu komputer bekerja di bank. Memang hal itu sah-sah saja, tapi rasanya ilmu yang didapatkan menjadi kurang berguna.

Kita perlu mengubah semua kejadian tadi. Kita perlu belajar kembali tentang bagaimana caranya belajar. Belajar harus menjadi hal yang menyenangkan. Anda belajar bukan kerena terpaksa tetapi karena belajar memang menyenangkan dan Anda mencintainya.

Bobbi de Porter memberikan pemecahan alternatif dengan metode Quantum Learning. Nama Quantum sendiri menunjukkan adanya lompatan besar terhadap cara pandang kita selama ini tentang belajar. Dengan berbagai keterampilan teknis seperti membaca cepat, teknik mencatat, bagaimana berpikir logis dan kreatif, serta menghilangkan mitos “Aku tidak bisa”. Perubahan paradigma ini diharapkan dapat memberikan hasil nyata terhadap kesuksesan Anda.

Belajar seperti ini, mengharuskan Anda untuk memotivasi diri sendiri. Anda harus tahu manfaat apa yang bakal diperoleh dari ilmu yang Anda pelajari. Bagaimana mungkin Anda termotivasi jika Anda tidak tahu manfaat pekerjaan yang Anda lakukan? Anda tidak mungkin mengharapkan pujian orangtua, mendapat dukungan dari teman-teman, atau harapan positif lainnya. Anda harus secara aktif menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan menyenangkan bagi diri Anda. Ketika semua orang tak lagi memotivasi, Anda harus mencari lingkungan baru yang dapat memotivasi Anda. Jika hal itu pun tak dapat dilakukan, setidaknya Anda masih punya diri sendiri untuk memberi semangat.

Jika kita melihat sejarah ke belakang, kita akan temui banyak sekali orang yang belajar dengan benar. Anda pasti kenal Aristoteles, seorang ahli hikmah dari Yunani. Anda juga perlu merujuk pada ilmuwan muslim masa lalu. Al-Farabi yang ahli fisika, Ibnu Sina yang ahli kedokteran, atau Jabir bin Hayyan yang ahli kimia serta banyak lagi lainnya. Mereka adalah para ahli multi disiplin ilmu. Mereka sekaligus spesialis tak tertandingi di bidangnya. Satu hal yang seringkali kita lupa bahwa kita pun merniliki potensi yang sama dengan mereka. Hanya saja, mereka memanfaatkan potensi tersebut sedangkan kita mengabaikannya.

Apa yang membedakan mereka dari kita? Tampaknya hanya satu hal yakni paradigma atau cara pandang mereka terhadap proses belajar itu sendiri. Mereka belajar dengan cara menemukan lebih dahulu apa manfaat dan bidang-bidang yang mereka kuasai. Mereka tidak ingin sekedar prestise yang diperoleh dari selembar ijazah tapi ingin penguasaan yang menyeluruh. Dengan demikian, mereka belajar dengan penuh rasa ingin tahu. Mereka akan terus menggali ilmu dengan kesungguhan sampai maut memisahkan.

Agama menyuruh umatnya untuk giat menuntut Ilmu. Al-Qur’an mengatakan bahwa Allah SWT meninggikan derajat orang yang berilmu lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak berilmu. Nabi mengajarkan untuk menuntut ilmu sampai ke negeri Cina sekalipun. Ilmu laksana hikmah yang harus terus dicari, digali, dieksplorasi dan akhimya diambil dan dimanfaatkan demi kebaikan. Betapa banyak ayat-ayat Al-Qn’an yang menyuruh kita menggunakan akal untuk berpikir, menggunakan hati untuk merenung, serta memanfaatkan potensi diri sebesar-besarnya.

Sebagai seorang calon intelektual kegiatan belajar merupakan makanan sehari-hari bagi Anda. Akan tetapi, sudahkah Anda memiliki motivasi yang tepat, niat yang benar serta mampu melihat manfaat dari setiap bidang yang Anda pelajari? Wallahu a’lam.

Insya Allah, dengan mengubah cara pandang tentang belajar maka belajar Anda akan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Anda tidak akan pernah lagi merasakan belajar sebagai sebuah beban melainkan melihatnya sebagai sebuah tantangan. Anda akan memasuki wilayah eksplorasi ilmu yang tiada habis-habisnya. Anda akan merasakan indahnya ilmu Allah SWT yang saling terkait satu sama lain. Anda akan terus-menerus menemukan manfaat dan minat-minat baru dalam belajar. Anda tidak akan pernah puas mereguk lautan ilmu. Semakin banyakAnda mereguknya, Anda hanya akan semakin haus. Dan akhirnya Anda akan menjadi seorang pelajar Quantum. Seorang yang belajar kapan saja, di mana saja, dari siapa saja dan dengan cara apa saja. Anda bisa belajar di ruang kelas, di kamar pribadi, di bus, atau di jalanan. Anda dapat memperoleh ilmu dari dosen, teman, tukang ojek, atau bahkan anak-anak. Andajuga dapat belajar dengan cara membaca buku, berdialog dengan orang lain, belajar dari pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain, atau belajar dan alam semesta dengan melihat tanda-tanda kebesaran-Nya. Belajar Anda tidak lagi mengenal batasan tempat dan waktu. 
--------------------------------------------------------------
Sumber:

Talenta Saja Tidak Cukup

by Muhammad Noer @ 7 May 2009

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat penugasan dari kantor  untuk membuat resensi buku tentang talent. Ya, talent atau talenta adalah topik yang hangat belakangan ini. Mulai dari bagaimana menemukan talenta terbaik, mengembangkannya, mempertahankannya sampai akhirnya memberi hasil yang maksimal sesuai bidangnya. Secara sederhana, talenta adalah kualitas diri yang unik yang melekat pada pribadi seseorang sehingga membuatnya memiliki keunggulan tertentu dibandingkan orang lain.

Setelah browsing beberapa buku, akhirnya pilihan saya jatuh pada karangan John C Maxwell berjudul Talent is Never Enough. Pengarang buku ini dikenal sebagai ahli di bidang kepemimpinan dan menjadi pengarang serta pembicara dengan pengalaman 30 tahun lebih di bidangnya.

Mengapa Talenta Saja Tidak Cukup?
Banyak anggapan bahwa jika seseorang memiliki talenta di bidang tertentu, maka dia bisa menjadi yang terbaik di bidangnya. Atau minimal menunjukkan prestasi yang mengagumkan di bidang tersebut. Tapi mengapa ada orang yang sebenarnya memiliki talenta tidak bisa menghasilkan prestasi yang baik? Apa perbedaan antara seseorang yang memiliki talenta dan berprestasi di bidangnya dengan orang lain yang juga memiliki talenta tapi menunjukkan prestasi biasa-biasa saja? Pertanyaan inilah yang coba dijawab oleh buku tersebut.
Seseorang yang memiliki talenta tapi tidak mengambil tindakan yang diperlukan maka dia tidak pernah mendapatkan hasil yang diharapkan.
Seseorang yang memiliki talenta tapi tidak mengambil tindakan yang diperlukan maka dia tidak pernah mendapatkan hasil yang diharapkan. Seseorang yang memiliki talenta tapi tidak fokus pada bidangnya maka dia tidak akan dapat meningkatkan prestasinya. Seseorang yang memiliki talenta tapi tidak berlatih maka dia tidak akan mencapai kesempurnaan dalam karya-nya.
Dengan demikian, seseorang yang memiliki talenta perlu melakukan tindakan-tindakan yang tepat untuk mengasah dan memanfaatkan talenta tersebut agar menjadi kekuatan diri dalam berkarya.

Keyakinan Akan Talenta Diri
Langkah pertama yang perlu dilakukan setiap orang adalah percaya dan yakin bahwa kita semua memiliki talenta yang unik. Tidak ada manusia yang lebih unggul dari yang lain. Seseorang boleh jadi hebat dalam bidang tertentu tapi pasti punya kelemahan di bidang yang lain. Sebaliknya jika kita lemah dalam bidang tertentu pasti juga punya kekuatan di bidang yang lain.
Kepercayaan akan talenta diri ini menjadi penting. Kita harus menyadari ada potensi besar dalam setiap insan. Talenta yang kita miliki sekaligus menjadi arah untuk misi hidup kita yang bermanfaat bagi orang banyak. Keyakinan ini sekaligus akan membuat kita percaya pada diri sendiri. Keyakinan akan menentukan harapan, aksi dan hasil yang kita inginkan.
Ingat, banyak orang gagal bukan karena tidak memiliki talenta, tapi lebih sering karena tidak percaya atau tidak yakin bahwa dirinya punya talenta tersebut.

Bagaimana Memanfaatkan Talenta?
Jika Anda sudah yakin dan menemukan secercah gambaran talenta yang dimiliki, langkah selanjutnya adalah memanfaatkan talenta tadi.

Tahap pertama adalah persiapan. Bagian ini mengajarkan agar kita mempersiapkan diri dengan baik sampai talenta tersebut matang. Tahukah Anda apa yang dilakukan musisi terbaik agar bisa tampil maksimal dalam pertunjukan berdurasi 5 menit? Ya, dia berlatih habis-habisan berjam-jam sebelumnya. Tahukah Anda apa yang dilakukan oleh juara renang dunia yang berhasil memegang beberapa rekor terbaik? Dia mempersiapkan diri setiap hari sehingga menang dalam pertandingan yang hanya berlangsung 25 detik.

Tahap kedua adalah latihan yang teratur. Pepatah mengatakan “practice makes perfect.” Latihan yang baik dan benar akan mengasah talenta yang dimiliki dan membantu untuk menemukan kekuatan diri kita yang sebenarnya. Dengan latihan teratur sekaligus mengajarkan kedisiplinan.

Tahap ketiga adalah pantang menyerah. Ada kalanya talenta yang telah dipersiapkan dan diasah dalam berbagai latihan belum menunjukkan hasil yang maksimal. Kunci untuk mencapai ke sana adalah pantang menyerah dan terus menerus tanpa kenal lelah berjuang mengasah dan memperbaiki talenta yang kita miliki. Sikap ini yang akan memastikan talenta kita akan menciptakan kesuksesan yang langgeng. Tidak hanya menang sekali untuk kemudian tenggelam.

Meningkatkan Kualitas Talenta
Setelah berhasil memanfaatkan talenta, sekarang adalah waktunya untuk meningkatkan talenta tersebut sehingga lebih baik lagi dari sebelumnya. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk itu yakni:

Keberanian. Keberanian dalam mencoba sesuatu yang baru sekaligus menghitung resiko yang ada dengan cermat akan menunjukkan kekuatan talenta Anda yang sebenarnya. Coba perhatikan orang-orang besar di mana mereka berani melangkah dan mengambil tindakan yang orang lain mungkin akan ragu untuk melakukan. Namun keberanian tersebutlah yang membuat mereka berbeda dari orang lain sekaligus menunjukkan kekuatan talenta yang mereka miliki sebenar-benarnya.

Karakter. Ada orang yang berpotensi dan bertalenta tinggi namun memiliki sikap dan karakter yang kurang baik. Ingat, tanpa memiliki karakter yang baik dan kuat seseorang tidak akan bisa bertahan untuk masa yang panjang. Bisa jadi dia sukses hari ini dengan talentanya tapi akan segera redup karena kerendahan karakternya.

Terus Belajar. Memiliki talenta yang baik bukan berarti berhenti belajar melainkan terus menerus mengembangkan diri termasuk dari orang lain. Kesalahan besar yang dilakukan orang bertalenta adalah menganggap dirinya yang terbaik sehingga tidak merasa perlu belajar dari orang lain. Adapun sikap yang seharusnya dimiliki adalah membuka diri untuk terus belajar meskipun kita salah seorang ahli di bidang yang ditekuni tadi. Ingat, keahlian akan terus menguat seiring dengan proses belajar dan semakin melemah dengan tidak belajar.

Perbesar Dampak Talenta Anda
Jika kualitas talenta sudah mulai tampak dan berkembang, proses terakhir yang perlu dilakukan adalah bagaimana memperbesar dampak atau pengaruhnya. Hal ini dapat dilakukan dengan membina hubungan, tanggung jawab dan kerjasama.

Membina hubungan yang baik dengan orang lain yang juga bertalenta akan memberi pengaruh positif bagi diri. Adanya hubungan dengan orang lain akan membuka proses saling memberi dan saling menerima. Di sana terjadi proses saling mempengaruhi dalam hal yang positif.
Seorang yang benar-benar bertalenta harus bertanggung jawab, baik terhadap diri sendiri maupun masyarakatnya. Perhatikan banyak orang bertalenta namun tidak bertanggung jawab gagal karena keburukan tingkah laku mereka. Mereka yang tadinya dihargai dan dipuji berbalik dicerca karena tidak mengindahkan norma-norma yang berlaku di masyarakat.
Setiap diri kita pasti memiliki talenta apakah kita sudah mengenalinya atau belum. Temukanlah talenta tersebut dan miliki keyakinan akan talenta yang Anda miliki.

Kerjasama seringkali tidak mudah buat orang bertalenta karena merasa dirinya lebih dibandingkan orang lain. Padahal tidak ada orang bertalenta super sekalipun yang bisa mengalahkan sekelompok orang yang bekerjasama secara super. Dengan kerjasama akan memperbesar dampak dari talenta Anda sekaligus memberi nilai tambah bagi semua orang.

Penutup
Setiap orang unik dan hebat. Tuhan Maha Adil. Tidak mungkin orang tertentu hanya diberikan kelebihan saja sementara yang lain hanya diberikan kekurangan saja. Setiap diri kita pasti memiliki talenta apakah kita sudah mengenalinya atau belum. Temukanlah talenta tersebut dan miliki keyakinan akan talenta yang Anda miliki.

Hanya dengan tindakan yang tepat dan benar Anda akan bisa memanfaatkan talenta sehingga bermanfaat. Jangan cepat berpuas dan berbangga diri sebab jika Anda punya talenta, orang lain juga demikian. Maksimalkan talenta Anda, berbagilah dengan orang lain sekaligus ambil manfaat yang banyak dari orang di sekitar Anda.
Selamat menemukan talenta dan berkarya di bidang yang sesuai dengan kemampuan alami diri kita masing-masing.

Jika Anda ingin mendapat versi presentasi dari ringkasan yang saya buat, silakan download di sini.

Sumber:

Tuesday, January 18, 2011

Menolong Orang Tak Dikenal

Frank Daily menatap kebawah, ke tanah yang membeku. Dia menendang gumpalan salju, yang menghitam akibat asap buangan mobil, ke tepi jalan. Dia hanya berpura-pura saja mendengarkan obrolan temen-temennya, Norm dan Ed, sambil naik ke bus nomor 10 sepulang sekolah. Dia asal buka mulut saja untuk menjawab pertanyaan mereka : " Iya, ujian Milton tadi aku sukses ..., Nggak, aku nggak bisa malam ini. Aku mesti belajar."

Frank dan teman-temannya menghempaskan diri di kursi paling belakang di bus kota Milwaukee, bersama beberapa murid SMU lain, sebagian dari SMU yang berbeda. Bus itu menyemburkan asap kelabu dari belakang, dan bergerak ke barat di Jalan Blue Mound.

Frank duduk dengan lesu di kursinya. Tangannya menggantung dengan kedua ibu jarinya disisipkan di tengah-tengah ikat pinggangnya. Pada hari dingin kelabu seperti ini di bulan November yang lalu, dunianya hancur berantakan didepan matanya. Dia tahu bahwa kemampuannya bermain basket tidak kalah dengan kemampuan anak-anak lain. Ibunya pernah menyebutnya "atlet nomor wahid". Ketika dia masih kecil, ibunya menjulukinya "Search and Destroy" (Cari dan Hancurkan)". Dia tersenyum mengenang hal itu.

Bus itu menyentak dari sebuah tikungan, dan Frank langsung menekan sepatu Nike-nya ke lantai bus. Pasti gara-gara aku terlalu pendek, pikirnya. Pasti. Hanya satu enam puluh. Karena aku murid baru di SMU Marquette, dan baru kelas satu, Pak Pelatih Cuma melihatku sekilas saja dan langsung memutuskan aku terlalu kecil dan tak pantas jadi anggota tim basket.
Memang tidak mudah memulai di sekolah baru, apalagi di sekolah yang muridnya lelaki semua. Murid-murid yang paling besar cenderung membentuk geng sendiri. Bagi Frank semua itu terasa lebih sulit karena di SD dirinya selalu menjadi atlet bintang. Sekarang tampaknya dia bukan apa-apa.
Frank bukan saja hebat dalam atletik sebelum masuk ke SMU Marquette, dia juga hebat dalam politik dan sejarah di kelas lima dan enam. Dia masih ingat nasehat gurunya, Don Anderson : “Frank, kalau kamu menyisihkan waktu sama banyaknya belajar dan basket, kamu bisa hebat dalam kedua-duanya.”
Yaaa, pikir Frank, setidaknya Pak Anderson memang benar dalam hal belajar. Sejak rajin belajar nilaiku selalu A atau B. Lain lagi dengan basket.

Suara klakson yang nyaring dan decitan rem di belakang bus mengagetkan Frank. Dia menoleh pada Norm dan Ed. Norm menyandarkan kepalanya ke jendela dengan mata setengah terpejam. Hembusan nafasnya yang hangat membentuk lingkaran kabut di kaca jendela.

Frank menggosok-gosok matanya sendiri. Dia masih ingat betapa mules perutnya ketika ia menghampiri ruangan loker bulan lalu. Dia membaca daftar tim basket yang ditempelkan di pintu ruangan loker, berharap, mencari-cari namanya dengan panik. Ternyata tak ada. Namanya tak tercantum. Dia merasa seakan-akan lenyap ditelan bumi. Seakan-akan tak terlihat.
Bus itu berhenti mendadak di halte halaman County Institutions. Sopir bus berteriak menyuruh anak-anak diam terutama yang duduk di belakang. Frank memandang si sopir yang disebut “Kojak” karena kepalanya botak.

Seorang wanita yang hamil tua berpegangan pada pegangan tangan berwarna perak itu, lalu naik ke atas bus. Dia menjatuhkan diri duduk di kursi di belakang sopir. Kakinya terangkat keatas, dan Frank melihat kakinya hanya dibalut stoking.

Saat Kojak membelokkan busnya ke jalan, ia berteriak, “Ke mana sepatunya, Bu? Diluar ‘kan dingin sekali ? Pasti kurang dari 10 derajat.”
“Saya tak mampu beli sepatu,” jawab wanita itu. Dia menarik kerah mantel yang melindungi lehernya. Beberapa anak yang duduk dibelakang saling pandang sambil nyengir. “Saya naik bus supaya kaki saya hangat,” kata wanita itu lagi. “Kalau boleh, saya ingin ikut keliling dalam bus ini.”
Kojak menggaruk kepalanya yang botak dan berteriak, “Kenapa ibu tak mampu beli sepatu ?”
“Anak saya delapan. Semuanya perlu sepatu. Tak ada sisanya untuk saya. Tapi tak apa, Tuhan akan menjaga saya.”

Frank memandang sepatu basket Nike-nya yang masih baru. Kakinya terasa hangat dan nyaman, seperti biasanya. Lalu dia memandang wanita itu lagi. Kaus kakinya sudah sobek. Mantelnya, yang sudah kehilangan beberapa buah kancing, menumpuk diperutnya yang bengkak seperti bola basket dan ditutupi oleh baju lusuh.
Setelah itu, Frank tak mendengar apa-apa lagi. Dia tak sadar akan keberadaan Norm dan Ed. Yang dirasakannya hanyalah perasaan hangat dalam perutnya. Kata “tak terlihat” muncul berkali-kali dalam benaknya . Orang yang tak terlihat, tak berarti, terlupakan oleh masyarakat, tapi karena alasan lain, pikirnya.

Dia mungkin akan selalu mampu membeli sepatu. Wanita itu tidak. Di bawah kursinya, menekan ujung sebelah sepatunya ke tumit sepatu yang sebelah lagi, dan melepaskannya. Lalu dilakukannya hal yang sama pada sepatu yang sebelah lagi. Dia melihat disekelilingnya. Tak ada yang memperhatikan. Dia harus berjalan tiga blok di atas jalan bersalju. Tapi selama ini dia tidak terlalu merasa terganggu oleh rasa dingin. Ketika bus itu berhenti diakhir trayeknya, Frank menunggu sampai semua orang turun. Lalu cepat dia membungkuk dan mengambil sepatu basketnya. Cepat-cepat dia berjalan ke arah wanita tadi, dan memberikan sepatu kepadanya. Dia menunduk dan berkata, “Ini Bu, Ibu lebih membutuhkannya ketimbang saya.”
Lalu Frank bergegas ke pintu dan turun. Kakinya terbenam dalam genangan air. Tak mengapa. Dia sama sekali tak kedinginan. Dia mendengar teriakan wanita itu. “Lihat ! Sepatunya pas sekali !”
Lalu dia mendengar Kojak memanggilnya, “Hei, Nak ! Sini! Siapa Namamu ?”
Frank berbalik, menghadapi Kojak. Pada waktu yang sama Norm dan Ed menanyakan dimana sepatunya.
Pipi Frank memerah. Dia kebingungan menghadapi si Kojak, teman-temannya, dan wanita itu. “Frank Daily,” katanya perlahan. “Nama saya Frank Daily.”
“Well, Frank, “kata si Kojak, “Sudah 20 tahun saya jadi sopir bus. Belum pernah sekalipun saya mengalami hal seperti ini.”
Wanita itu menangis. “Terimakasih, anak muda,” katanya.
Memberikan kesenangan kepada sebuah hati dengan sebuah tindakan masih lebih baik daripada seribu kepala yang menunduk berdoa.

Dikutip dari:

Maafkan Jika Aku Mengeluh

Hari ini, di sebuah bus, aku melihat seorang gadis cantik dengan rambut pirang.
Aku iri melihatnya. Dia tampak begitu ceria, dan kuharap aku pun sama.
Tiba-tiba dia terhuyung-huyung berjalan.
Dia mempunyai satu kaki saja, dan memakai tongkat kayu.
Namun ketika dia lewat - tersenyum.

Oh Tuhan, maafkan aku bila aku mengeluh.
Aku punya dua kaki. Dunia ini milikku.


Aku berhenti untuk membeli bunga lili.
Anak laki-laki penjualnya begitu mempesona.
Aku berbicara padanya. Dia tampak begitu gembira.
Seandainya aku terlambat, tidaklah apa-apa.
Ketika aku pergi, dia berkata, "Terima kasih. Engkau sudah begitu baik.
Menyenangkan berbicara dengan orang sepertimu. Lihat saya buta."

Oh Tuhan, maafkan aku bila aku mengeluh.
Aku punya dua mata. Dunia ini milikku.

Lalu, sementara berjalan. Aku melihat seorang anak dengan bola mata biru.
Dia berdiri dan melihat teman-temannya bermain.
Dia tidak tahu apa yang bisa dilakukannya.
Aku berhenti sejenak, lalu berkata, "Mengapa engkau tidak bermain dengan yang lain, nak ?"
Dia memandang ke depan tanpa bersuara,lalu aku tahu dia tidak bisa mendengar.

Oh Tuhan, maafkan aku bila aku mengeluh.
Aku punya dua telinga. Dunia ini milikku.

Dengan dua kaki untuk membawa aku ke mana aku mau.
Dengan dua mata untuk memandang mentari terbenam.
Dengan dua telinga untuk mendengar apa yang ingin kudengar.

Oh Tuhan, maafkan aku bila aku mengeluh.
Sumber:
Content di kutip dari  berbagai sumber;

Saturday, January 15, 2011

The Shoes Story

(Positive thinking, Negative thinking, Attitude, Perspective, Mindset)

You will perhaps have heard this very old story illustrating the difference between positive thinking and negative thinking:

Many years ago two salesmen were sent by a British shoe manufacturer to Africa to investigate and report back on market potential.
The first salesman reported back, "There is no potential here - nobody wears shoes."
The second salesman reported back, "There is massive potential here - nobody wears shoes."

This simple short story provides one of the best examples of how a single situation may be viewed in two quite different ways - negatively or positively.

We could explain this also in terms of seeing a situation's problems and disadvantages, instead of its opportunities and benefits.

When telling this story its impact is increased by using exactly the same form of words (e.g., "nobody wears shoes") in each salesman's report. This emphasises that two quite different interpretations are made of a single     situation.

Source:
http://www.businessballs.com/stories.htm#the-shoes-story

Recent Comments