Sunday, September 29, 2019

Great Videos: Leadership VS Organization Transformation

Most leaders don't even know the game they are in

How To Be A Great Business Leader Part 2 Give Credit Take Blame

3 Key Leadership Mistakes During Organizational Change - Corporate Trainer Dana Brownlee

7 Strategies for Overcoming Resistance to Change

Sunday, September 22, 2019

Digital Transformation Program: (2009-2010)

Mr. Setiaji: The Visioner Man since I met him in 2008. I am really happy and proud becoming his sparing partner in discussion about innovative ideas and how to implement it. We're creating a digital landscape in Indonesia.



When Mobile banking just a SMS banking we're creating a native mobile banking apps.


 A Framework of Transformation (Experience based Knowledge since 2003); Created by Fahmi G

Digital & Organization Transformation: A case of Enterprise Asset Management

a long time ago when we creating a framework for Enterprise Asset Management with Great Team at PJB, Mr. Satrio Wahyudi, Mr. Doddy Apriananta, and Mr. Mirandi

Once upon a time: Character Building Program (2009)



Desember 2009

Australia-Indonesia Cyber Security

October 2018


 October 2018


Wednesday, September 18, 2019

What is our Legacy?


Great moral story...where we can turn our self around (changes) become positive and creating value for the world:

Quotes:
--------
Our values, our character, the grace of compassion, and that the love that flaws through us is the greatest contribution we could make to our own life, to our families, and to the world. and when we have those values, and we work and we build that foundation then we could have a wonderful, fulfilling, meaningful life...beyond birth, beyond death. We could leave that as a legacy for the world.

Monday, September 09, 2019

ISO 9001: 2015 Approach relation with Six Sigma Approach

Secara umum standar ini menekankan kepada pendekatan proses ketika mengembangkan, menerapkan dan meningkatkan kualitas efektifitas manajemen mutu untuk mendapatkan kepuasan pelanggan yang lebih tinggi dengan menghadirkan harapan pelanggan. Gambar dibawah ini menjelaskan hal tersebut, dan hal ini mirip dengan konsep Six Sigma, yaitu proses peningkatan (improvement) dengan menggunakan metode SIPOC (Supplier, Inputs, Process, Output dan Cusrtomer). Pendekatan ini dapat membuat organisasi didalam mengendalikan keterkaitan antar proses-proses yang ada dari suatu sistem secara sistematis, sehingga kinerja keseluruhan organisasi dapat ditingkatkan untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan kebijakan mutu dan arah strategis organisasi.


Risk Based Thinking

Pada ISO 9001:2015, resiko dianggap sebagai suatu kesatuan yang tidak dipisahkan dari sistem. Dengan mengambil pendekatan yang berbasis resiko, organisasi diharapkan menjadi lebih proaktif ketimbang reaktif, senantiasa mencegah dan mengurangi efek yang tidak dikehendaki, dan selalu mempromosikan perbaikan sistem yang berkelanjutan (continoual improvement).
Ketika manajemen resiko diterapkan, secara otomatis tindakan pencegahan akan dilakukan. ISO 9001: 2015 mendefinisikan resiko sebagai dampak dari ketidakpastian pada hasil yang diharapkan. Target dari sistem manajemen mutu mencapai kesesuaian dan kepuasan pelanggan, dimana ISO 9001:2015 menggunakan pemikiran berbasis resiko (Risk - Based Thinking). Adapun risk-based thinking didalam ISO 9001: 2015 diperoleh dengan cara:
  • Clause 4 (Context) Organisasi harus menetapkan resiko yang mungkin mempengaruhi organisasi.
  • Clause 5 (Leadership) Manajemen Puncak harus berkomitmen untuk memastikan klausul 4 ditindaklanjuti.
  • Clause 6 (Planning) Organisasi harus mengambil tindakan untuk mengidentifikasi resiko dan peluang
  • Clause 8 (Operation) Organisasi harus menerapkan proses-proses untuk mengatasi resiko dan peluang.
  • Clause 9 (Performance evaluation) Organisasi harus memeantau, mengukur, menganalisis serta mengevaluasi resiko dan peluang
  • Clause 10 (Improvement) Organisasi harus meningkatkan dan memperbaiki sistem dengan menanggapi perubahan resiko
PDCA Approach menggambarkan hal ini spt gambar dibawah:


Saturday, September 07, 2019

Lesson to Learn: Arloji Tua


Merasa ajalnya sudah dekat, seorang ayah berkata kepada anak nya: “Nak, Arloji milik ku ini adalah warisan dari kakek buyut mu, usia nya lebih dari 200 tahun”
.
“Sebelum Ayah wariskan pada mu, Ayah mau kamu bawa Arloji tua ini ke toko jam di sebrang jalan itu, katakan kepada pemilik toko bahwa kamu mau menjualnya. Tanya lihat berapa harga nya…”
.
Sang anak pergi tidak lama lalu kembali dan berkata: “pemilik toko jam itu bilang bahwa harga nya Cuma 5 Dolar, karena ini adalah arloji tua…”

Kemudian si Ayah berkata; “sekarang coba kamu bawa arloji ini ke toko barang barang antik  dan tanyakan harga nya…”
.
Si anak pergi lalu kembali dan berkata “ pemilik toko bilang , harga arloji ini mencapai 5000 Dollar..”
.
Sang Ayah berkata; “ sekarang coba bawa ke museum dan katakan ke mereka bahwa kamu mau menjual arloji tua ini..”
.
Si anak pun pergi lalu kembali dan berkata “ mereka mendatangkan pakar arloji untuk memperkirakan harga nya, lalu mereka menawarkan kepada ku 1.000.000 Dollar untuk arloji ini…”
.
Si Ayah berkata; “Nak, aku sedang mengajarkan mu bahwa kamu hanya akan dihargai dengan benar ketika kamu berada di lingkungan yang tepat, maka jangan pernah kamu tinggal di tempat yang salah lalu marah karena tidak ada yang menghargai mu…”
.
Karena Mereka yang mengetahui nilai mu, akan selalu menghargai mu,… Maka jangan pernah bergaul di tempat yang tidak layak untuk mu…

Semoga bermanfaat bgi kita semua..........

Tuesday, September 03, 2019

Lesson to Learn: Satu Setengah Teman

Alkisah dahulu kala ada seorang pendekar ksatria yang bergaul luas dengan para pendekar sejati seantero negeri. Menjelang ajalnya, ia sempat bercerita kepada putranya, jangan lihat ayah melanglang buana sedari kecil, orang-orang yang bersahabat dengan ayah itu seperti ikan yang lewat. Sebenarnya, seumur hidup ini, ayah hanya bersahabat dengan satu setengah teman. Mendengar itu, putranya tampak mengernyitkan dahi, heran dan bingung.

Sang ayah tampak berbisik seperti hendak berpesan kepada putranya, lalu berkata kepadanya, kamu temui satu setengah teman ayah itu seperti yang ayah sampaikan, kamu akan paham dengan sendirinya nanti akan arti seorang sahabat.

Putranya lalu menemui “sesosok teman” yang benar-benar dipercaya ayahnya, lalu ia berkata kepada teman ayah : “Saya putranya si anu, sekarang sedang diburu pihak kerajaan, saya minta perlindungan sejenak karena terdesak, mohon pertolongannya!”

Mendengar itu, tanpa pikir panjang lagi, teman ayahnya itu lalu segera memanggil putranya, dan memerintahkan anaknya segera melepas pakaiannya, kemudian dipakaikan ke “buronan kerajaan” yang tidak dikenalnya, sementara anaknya sendiri mengenakan pakaian sang “buronan kerajaan.”

Akhirnya anaknya mengerti dengan perkataan ayahnya : Saat dalam keadaaan genting, orang yang tulus dan setia bahkan bersedia mengorbankan hidup mati putranya sendiri demi menyelamatkamu itu dapat disebut sebagai sesosok sahabat sejatimu.

Setelah itu, putranya menemui “setengah teman” seperti yang diceritakan ayahnya, kemudian menceritakan lagi hal yang sama kepada “setengah teman” ayahnya itu.

Setelah mendengar dengan seksama, “setengah teman” ayahnya ini lalu berkata kepada “buronan kerajaan” yang memohon bantuannya : “Nak, ini masalah serius, saya tidak bisa membantumu, kamu ambillah uang ini, dan cepat pergi menyelamatkan dirimu, saya jamin tidak akan melaporkannya…..”

Mendengar itu, akhirnya putranya memahami : “Saat kamu susah, orang yang bisa melindungi dirinya dengan bijak, tidak mencelakakan kamu yang sudah tertimpa kesusahan itu juga bisa disebut sebagai “setengah temanmu.”

Menjelang ajalnya, ayah itu menasihati, tidak hanya membuat putranya, tapi kita juga memahami akan sebuah kebenaran dalam persahabatan : Kamu boleh bergaul secara luas dengan teman-teman, dan tidak ada jeleknya memperlakukan dengan baik dan sepenuh hati terhadap teman-temanmu, tetapi jangan menuntut temanmu itu membalas dengan budi (kebaikan) yang sama sepertimu.

Memperlakukan teman dengan tulus dan baik itu adalah sesuatu yang murni menggembirakan. Jika menuntut balasan, maka kegembiraan itu pun berkurang drastis, dan kekecewaan juga akan mengendap bersamaan dengan itu. Bagaimanapun, perlakuan baikmu kepada orang lain dengan orang lain yang memperlakukanmu dengan baik adalah dua hal yang berbeda, sama seperti memberi dan diberi adalah dua hal yang tidak sama, kebaikanmu hanya akan dapat menulari atau menawarkan kejahatan orang lain, tapi jangan berharap menyembuhkan sampai ke akar-akarnya.

Tentu saja, ada kalanya kamu juga akan bertemu dengan orang yang memperlakukanmu dengan baik seperti dirimu, dan kamu seharusnya bersyukur karena itu adalah keberuntunganmu, tetapi jangan sepenuhnya yakin bahwa itu sudah seyogyanya, karena hanya ada satu setengah teman.

Recent Comments