Tuesday, September 03, 2019

Lesson to Learn: Satu Setengah Teman

Alkisah dahulu kala ada seorang pendekar ksatria yang bergaul luas dengan para pendekar sejati seantero negeri. Menjelang ajalnya, ia sempat bercerita kepada putranya, jangan lihat ayah melanglang buana sedari kecil, orang-orang yang bersahabat dengan ayah itu seperti ikan yang lewat. Sebenarnya, seumur hidup ini, ayah hanya bersahabat dengan satu setengah teman. Mendengar itu, putranya tampak mengernyitkan dahi, heran dan bingung.

Sang ayah tampak berbisik seperti hendak berpesan kepada putranya, lalu berkata kepadanya, kamu temui satu setengah teman ayah itu seperti yang ayah sampaikan, kamu akan paham dengan sendirinya nanti akan arti seorang sahabat.

Putranya lalu menemui “sesosok teman” yang benar-benar dipercaya ayahnya, lalu ia berkata kepada teman ayah : “Saya putranya si anu, sekarang sedang diburu pihak kerajaan, saya minta perlindungan sejenak karena terdesak, mohon pertolongannya!”

Mendengar itu, tanpa pikir panjang lagi, teman ayahnya itu lalu segera memanggil putranya, dan memerintahkan anaknya segera melepas pakaiannya, kemudian dipakaikan ke “buronan kerajaan” yang tidak dikenalnya, sementara anaknya sendiri mengenakan pakaian sang “buronan kerajaan.”

Akhirnya anaknya mengerti dengan perkataan ayahnya : Saat dalam keadaaan genting, orang yang tulus dan setia bahkan bersedia mengorbankan hidup mati putranya sendiri demi menyelamatkamu itu dapat disebut sebagai sesosok sahabat sejatimu.

Setelah itu, putranya menemui “setengah teman” seperti yang diceritakan ayahnya, kemudian menceritakan lagi hal yang sama kepada “setengah teman” ayahnya itu.

Setelah mendengar dengan seksama, “setengah teman” ayahnya ini lalu berkata kepada “buronan kerajaan” yang memohon bantuannya : “Nak, ini masalah serius, saya tidak bisa membantumu, kamu ambillah uang ini, dan cepat pergi menyelamatkan dirimu, saya jamin tidak akan melaporkannya…..”

Mendengar itu, akhirnya putranya memahami : “Saat kamu susah, orang yang bisa melindungi dirinya dengan bijak, tidak mencelakakan kamu yang sudah tertimpa kesusahan itu juga bisa disebut sebagai “setengah temanmu.”

Menjelang ajalnya, ayah itu menasihati, tidak hanya membuat putranya, tapi kita juga memahami akan sebuah kebenaran dalam persahabatan : Kamu boleh bergaul secara luas dengan teman-teman, dan tidak ada jeleknya memperlakukan dengan baik dan sepenuh hati terhadap teman-temanmu, tetapi jangan menuntut temanmu itu membalas dengan budi (kebaikan) yang sama sepertimu.

Memperlakukan teman dengan tulus dan baik itu adalah sesuatu yang murni menggembirakan. Jika menuntut balasan, maka kegembiraan itu pun berkurang drastis, dan kekecewaan juga akan mengendap bersamaan dengan itu. Bagaimanapun, perlakuan baikmu kepada orang lain dengan orang lain yang memperlakukanmu dengan baik adalah dua hal yang berbeda, sama seperti memberi dan diberi adalah dua hal yang tidak sama, kebaikanmu hanya akan dapat menulari atau menawarkan kejahatan orang lain, tapi jangan berharap menyembuhkan sampai ke akar-akarnya.

Tentu saja, ada kalanya kamu juga akan bertemu dengan orang yang memperlakukanmu dengan baik seperti dirimu, dan kamu seharusnya bersyukur karena itu adalah keberuntunganmu, tetapi jangan sepenuhnya yakin bahwa itu sudah seyogyanya, karena hanya ada satu setengah teman.

0 comments:

Post a Comment

Recent Comments