Tuesday, January 18, 2011

Menolong Orang Tak Dikenal

Frank Daily menatap kebawah, ke tanah yang membeku. Dia menendang gumpalan salju, yang menghitam akibat asap buangan mobil, ke tepi jalan. Dia hanya berpura-pura saja mendengarkan obrolan temen-temennya, Norm dan Ed, sambil naik ke bus nomor 10 sepulang sekolah. Dia asal buka mulut saja untuk menjawab pertanyaan mereka : " Iya, ujian Milton tadi aku sukses ..., Nggak, aku nggak bisa malam ini. Aku mesti belajar."

Frank dan teman-temannya menghempaskan diri di kursi paling belakang di bus kota Milwaukee, bersama beberapa murid SMU lain, sebagian dari SMU yang berbeda. Bus itu menyemburkan asap kelabu dari belakang, dan bergerak ke barat di Jalan Blue Mound.

Frank duduk dengan lesu di kursinya. Tangannya menggantung dengan kedua ibu jarinya disisipkan di tengah-tengah ikat pinggangnya. Pada hari dingin kelabu seperti ini di bulan November yang lalu, dunianya hancur berantakan didepan matanya. Dia tahu bahwa kemampuannya bermain basket tidak kalah dengan kemampuan anak-anak lain. Ibunya pernah menyebutnya "atlet nomor wahid". Ketika dia masih kecil, ibunya menjulukinya "Search and Destroy" (Cari dan Hancurkan)". Dia tersenyum mengenang hal itu.

Bus itu menyentak dari sebuah tikungan, dan Frank langsung menekan sepatu Nike-nya ke lantai bus. Pasti gara-gara aku terlalu pendek, pikirnya. Pasti. Hanya satu enam puluh. Karena aku murid baru di SMU Marquette, dan baru kelas satu, Pak Pelatih Cuma melihatku sekilas saja dan langsung memutuskan aku terlalu kecil dan tak pantas jadi anggota tim basket.
Memang tidak mudah memulai di sekolah baru, apalagi di sekolah yang muridnya lelaki semua. Murid-murid yang paling besar cenderung membentuk geng sendiri. Bagi Frank semua itu terasa lebih sulit karena di SD dirinya selalu menjadi atlet bintang. Sekarang tampaknya dia bukan apa-apa.
Frank bukan saja hebat dalam atletik sebelum masuk ke SMU Marquette, dia juga hebat dalam politik dan sejarah di kelas lima dan enam. Dia masih ingat nasehat gurunya, Don Anderson : “Frank, kalau kamu menyisihkan waktu sama banyaknya belajar dan basket, kamu bisa hebat dalam kedua-duanya.”
Yaaa, pikir Frank, setidaknya Pak Anderson memang benar dalam hal belajar. Sejak rajin belajar nilaiku selalu A atau B. Lain lagi dengan basket.

Suara klakson yang nyaring dan decitan rem di belakang bus mengagetkan Frank. Dia menoleh pada Norm dan Ed. Norm menyandarkan kepalanya ke jendela dengan mata setengah terpejam. Hembusan nafasnya yang hangat membentuk lingkaran kabut di kaca jendela.

Frank menggosok-gosok matanya sendiri. Dia masih ingat betapa mules perutnya ketika ia menghampiri ruangan loker bulan lalu. Dia membaca daftar tim basket yang ditempelkan di pintu ruangan loker, berharap, mencari-cari namanya dengan panik. Ternyata tak ada. Namanya tak tercantum. Dia merasa seakan-akan lenyap ditelan bumi. Seakan-akan tak terlihat.
Bus itu berhenti mendadak di halte halaman County Institutions. Sopir bus berteriak menyuruh anak-anak diam terutama yang duduk di belakang. Frank memandang si sopir yang disebut “Kojak” karena kepalanya botak.

Seorang wanita yang hamil tua berpegangan pada pegangan tangan berwarna perak itu, lalu naik ke atas bus. Dia menjatuhkan diri duduk di kursi di belakang sopir. Kakinya terangkat keatas, dan Frank melihat kakinya hanya dibalut stoking.

Saat Kojak membelokkan busnya ke jalan, ia berteriak, “Ke mana sepatunya, Bu? Diluar ‘kan dingin sekali ? Pasti kurang dari 10 derajat.”
“Saya tak mampu beli sepatu,” jawab wanita itu. Dia menarik kerah mantel yang melindungi lehernya. Beberapa anak yang duduk dibelakang saling pandang sambil nyengir. “Saya naik bus supaya kaki saya hangat,” kata wanita itu lagi. “Kalau boleh, saya ingin ikut keliling dalam bus ini.”
Kojak menggaruk kepalanya yang botak dan berteriak, “Kenapa ibu tak mampu beli sepatu ?”
“Anak saya delapan. Semuanya perlu sepatu. Tak ada sisanya untuk saya. Tapi tak apa, Tuhan akan menjaga saya.”

Frank memandang sepatu basket Nike-nya yang masih baru. Kakinya terasa hangat dan nyaman, seperti biasanya. Lalu dia memandang wanita itu lagi. Kaus kakinya sudah sobek. Mantelnya, yang sudah kehilangan beberapa buah kancing, menumpuk diperutnya yang bengkak seperti bola basket dan ditutupi oleh baju lusuh.
Setelah itu, Frank tak mendengar apa-apa lagi. Dia tak sadar akan keberadaan Norm dan Ed. Yang dirasakannya hanyalah perasaan hangat dalam perutnya. Kata “tak terlihat” muncul berkali-kali dalam benaknya . Orang yang tak terlihat, tak berarti, terlupakan oleh masyarakat, tapi karena alasan lain, pikirnya.

Dia mungkin akan selalu mampu membeli sepatu. Wanita itu tidak. Di bawah kursinya, menekan ujung sebelah sepatunya ke tumit sepatu yang sebelah lagi, dan melepaskannya. Lalu dilakukannya hal yang sama pada sepatu yang sebelah lagi. Dia melihat disekelilingnya. Tak ada yang memperhatikan. Dia harus berjalan tiga blok di atas jalan bersalju. Tapi selama ini dia tidak terlalu merasa terganggu oleh rasa dingin. Ketika bus itu berhenti diakhir trayeknya, Frank menunggu sampai semua orang turun. Lalu cepat dia membungkuk dan mengambil sepatu basketnya. Cepat-cepat dia berjalan ke arah wanita tadi, dan memberikan sepatu kepadanya. Dia menunduk dan berkata, “Ini Bu, Ibu lebih membutuhkannya ketimbang saya.”
Lalu Frank bergegas ke pintu dan turun. Kakinya terbenam dalam genangan air. Tak mengapa. Dia sama sekali tak kedinginan. Dia mendengar teriakan wanita itu. “Lihat ! Sepatunya pas sekali !”
Lalu dia mendengar Kojak memanggilnya, “Hei, Nak ! Sini! Siapa Namamu ?”
Frank berbalik, menghadapi Kojak. Pada waktu yang sama Norm dan Ed menanyakan dimana sepatunya.
Pipi Frank memerah. Dia kebingungan menghadapi si Kojak, teman-temannya, dan wanita itu. “Frank Daily,” katanya perlahan. “Nama saya Frank Daily.”
“Well, Frank, “kata si Kojak, “Sudah 20 tahun saya jadi sopir bus. Belum pernah sekalipun saya mengalami hal seperti ini.”
Wanita itu menangis. “Terimakasih, anak muda,” katanya.
Memberikan kesenangan kepada sebuah hati dengan sebuah tindakan masih lebih baik daripada seribu kepala yang menunduk berdoa.

Dikutip dari:

0 comments:

Post a Comment

Recent Comments