Saturday, June 05, 2010

ILIR-ILIR: Kepemimpinan Blimbing (Hikmah Sunan Ampel)

Lir ilir tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh temanten anyar
Bocah angon bocah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodot-iro
Dodot-iro dodot-iro lumintir bedah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung jembar kalangane
Mumpung padhang rembulane
Yo surako

------------------------------------------------------

”Lir-Ilir. Tandure Wus Sumilir. Tak Ijo Royo-Royo. Tak Sengguh Temanten Anyar.”

Menggeliatlah dari matimu, tutur Sunan. Siumanlah dari pingsan berpuluh-puluh tahun. Bangkitlah dari nyenyak tidur panjangmu. Sungguh negeri ini adalah penggalan sorga. Sorga seolah pernah bocor dan mencipratkan kekayaan dan keindahannya. Dan cipratan keindahannya itu bernama Indonesia Raya.

Kau bisa tanam benih kesejahteraan apa saja di atas kesuburan tanahnya yang tak terkirakan. Tak mungkin kau temukan makhluk Tuhanmu kelaparan di tengah hijau bumi kepulauan yang bergandeng-gandeng mesra ini. Bisa engkau selenggarakan dan rayakan pengantin-pengantin pembangunan lebih dari yang bisa dicapai oleh negeri-nergeri lain yang manapun.

Tapi kita memang telah tak mensyukuri rahmat sepenggal sorga ini. Kita telah memboroskan anugerah Tuhan ini melalui cocok tanam ketidak-adilan dan panen-panen kerakusan.

”Cah Angon, Cah Angon, Penekno Blimbing Kuwi.”

Sunan Ampel tidak menuliskan: "Ulama, Ulama", "Pak Jendral, Pak Jendral", "Intelektual, Intelektual" atau apapun lainnya, melainkan "Bocah Angon, Bocah Angon..." Beliau juga tidak menuturkan : "Penekno sawo kuwi", atau "Penekno pelem kuwi" atau buah apapun lainnya, melainkan "Penekno blimbing kuwi".

Blimbing itu bergigir lima. Terserah tafsirmu apa gerangan yang dimaksud dengan lima. Yang jelas harus ada yang memanjat pohon yang licin ini, agar blimbing bisa kita capai bersama-sama.

Dan yang memanjat harus "Cah Angon". Tentu saja ia boleh seorang doktor, boleh seorang seniman, boleh kiai, jendral, atau siapapun saja -- namun dimilikinya daya angon kesanggupan untuk menggembalakan. Karakter untuk merangkul dan memesrai semua pihak. Determinasi yang menciptakan garis resultan kedamaian bersama. Pemancar kasih sayang yang dibutuhkan dan diterima oleh semua warna, semua golongan, semua kecenderungan.

Bocah Angon adalah seorang pemimpin nasional, bukan tokoh golongan atau pemuka suatu gerombolan.

”Lunyu-Lunyu Penekno. Kanggo Mbasuh Dodot Iro.”

Sekali lagi, selicin apapun jalan reformasi ini, engkau harus jalani.... Selicin apapun pohon pohon tinggi reformasi ini sang Bocah Angon harus memanjatnya.

Harus dipanjat sampai selamat memperoleh buahnya, bukan ditebang, dirobohkan dan diperebutkan.

Air saripati blimbing lima gigir itu diperlukan oleh bangsa ini untuk mencuci pakaian nasionalnya. Konsep lima itulah sistem nilai yang menjadi wacana utama gerakan reformasi, kalau kita ingin menata semuanya ke arah yang jelas, kalau kita mau memahami segala tumpukan masalah ini dalam komprehensi konteks-konteks: kemanusiaan, kebudayaan, politik, rohani, hukum, ekonomi, sampai apapun.

Bukankah reformasi selama ini kita selenggarakan sekedar dengan acuan 'nafsu reformasi' itu sendiri, tanpa bimbingan ilmu atau spiritualitas dan profesionalitas rasional apapun?

”Dodot Iro, Dodot Iro, Kumitir Bedah Ing Pinggir. Dondomono, Jlumatono, Kanggo Sebo Mengko Sore.”

Pakaianlah yang membuat manusia bukan binatang. Pakaianlah yang membuat manusia bernama manusia.

Pakaian adalah akhlak, pegangan nilai, landasan moral dan sistem nilai. Pakaian adalah rasa malu, harga diri, kepribadian, tanggung jawab.

Pergilah ke pasar, lepaskan semua pakaianmu, maka engkau kehilangan segala-galanya sebagai manusia. Kehilangan harkat kemanusiaanmu, derajat sosialmu, eksistensi dan kariermu.

Semakin lebar pakaian menutupi tubuh, semakin tinggi pemakainya memberi harga kepada kemanusiaan pribadinya. Semakin sempit dan sedikit pakaian yang dikenakan oleh manusia, semakin rendah ia memberi harga kepada kepribadian kemanusiaannya.

Jika engkau berpakaian sehari-hari, engkau menjunjung harkat pribadi dan eksistensi sosialmu. Jika engkau mengenakan pakaian dinas, maka yang engkau sangga adalah harga diri dan rasa malu negara, pemerintah dan birokrasi.

Jika engkau melanggar atau mengkhianati amanat, tugas dan fungsimu sebagai pejabat negara, maka sesungguhnya engkau sedang menelanjangi dirimu sendiri.

Pakaian kebangsaan kita selama berpuluh-puluh tahun telah kita robek-robek sendiri dengan pisau pengkhianatan, kerakusan dan kekuasaan yang semena-mena -- yang akibatnya justru menimpa rakyat yang merupakan juragan kita, yang menggaji kita dan membuat kita bisa menjadi pejabat.

Bukankah negara dan pejabat memerlukan rakyat untuk menjadi negara dan pejabat? Sementara rakyat bisa tetap hidup tanpa negara dan pejabat?

Maka dondomono, jlumatono, jahitlah robekan-robekan itu, utuhkan kembali, tegakkan harkat yang selama ini ambruk.

”Mumpung Jembar Kalangane, Mumpung Padhang Rembulane. Yo Surako, Surak Hiyooo!.”

Indonesia Raya ini masih merupakan ladang masa depan yang subur, masih memancar cahaya rembulannya. Mumpung SDA nya masih banyak, mumpung tanahnya masih subur, mumpung mata airnya masih mengalir....., singsingkan lengan baju mulai sekarang!
Dikutip dari:
http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=News&file=article&sid=269

0 comments:

Post a Comment

Recent Comments