Monday, September 01, 2008

Dewasa, Sebuah Pilihan Hidup


Apakah Anda termasuk salah seorang yang beranggapan bahwa umur seseorang itu menentukan kedewasaannya? Semakin berumur seseorang (semakin tua) maka semakin dewasalah ia, karena telah dianggap makan asam garam selama hidupnya.
Kalau pendapat saya?
Tentu saja tidak! Lho, kenapa?
Pada hakikinya seorang manusia, memang ketika umur bertambah, maka diharapkan juga bahwa ia telah matang dan memiliki tingkat kedewasaan yang sepantasnya. Banyak orang tua jaman dahulu, selalu menganggap diri paling benar dibandingkan anak-anak mereka. Tidak juga ketinggalan, mereka menganggap anak-anak mereka yang telah memasuki usia 17 tahun keatas, artinya telah siap dan matang dalam kedewasaan untuk melangsungkan pernikahan. Suatu hal yang sangat saya tidak setujui.
Kedewasaan seseorang tidaklah ditentukan oleh berapa tua umur dari orang tersebut. Karena, pada kenyataannya tidak semua orang yang berumur (lebih tua) memiliki kematangan kedewasaan diri yang sesuai. Tidak sedikit orang yang telah berumur belum menemukan kedewasaannya atau justru tidak ingin menjadi dewasa.
Ketidak-inginan menjadi dewasa, dalam hal ini bukanlah ia senantiasa berperilaku seperti anak kecil layaknya, yang selalu maunya main terus lho. Namun, ketidak-inginan seseorang untuk beranjak dewasa diperlihatkan dengan ketidak-adaan rasa tanggung jawab dari dalam dirinya. Ketida-mauan-nya melihat dunia secara nyata dengan terus berada dalam "ruangan" keegoisan dirinya sendiri.
Apakah bila Anda telah menjadi orang tua, berarti Anda telah memiliki kedewasaan Anda dalam menyingkapi kehidupan ini? Jawabannya - belum tentu teman...
Saya memiliki contoh nyata yang saya temui sendiri. Kisah sebuah keluarga yang didalamnya ternyata membuktikan, usia & perannya dalam kehidupan ternyata bukanlah cerminan dari kedewasaan diri.
Kisah keluarga ini dimulai dengan kisah cinta layaknya pasangan yang sedang dimabuk kepalang, sebut saja Rini & Alex Mengetahui kedua belah pihak adalah sama-sama termasuk orang yang baik, dua insan inipun memutuskan untuk menikah, toh juga sudah cukup umur, dimana sang perempuan kala itu berumur 29 tahun dan laki-lakinya berumur 32 tahun.
"Alex adalah orang yang baik dan sabar, jadi sepertinya ia adalah lelaki yang tepat untuk menjadi suamiku." ujar Rini dalam celoteh kebahagiannya. Demikian juga Alex yang melihat Rini sebagai gadis baik yang penurut. Pendek cerita, merekapun menikah, dan memiliki seorang anak. Dalam perjalanan di lautan kehidupan yang nyata, barulah terlihat, ternyata umur yang cukup (tua), peran mereka sebagai suami-istri sekaligus orang tua tidaklah mencerminkan suatu kedewasaan baik dalam berfikir, bertindak dan mengambil keputusan.
Setiap orang hidup, tidak mungkin tanpa masalah. Tetapi semua berpulang kepada diri kita sendiri, bagaimana kita menyingkapi dengan bijaksana dan belajar untuk menjadi dewasa. Sedangkan, apa yang dilakukan oleh Rini & Alex justru menghancurkan kehidupan mereka sendiri. Alex yang telah bertahun bekerja keras, hingga mendapatkan posisi sebagai seorang manajer di perusahaannya, tiba-tiba keluar kerja tanpa mengajak isterinya berdiskusi terlebih dahulu. "Wahhh gue bete banget ama bos gue, kerjaannya marah-marah mulu. Emang gue apaan dimarahin terus! Mending gue keluar aja!" omel Alex pada temannya di suatu kafe saat makan siang bersama. Dan, sejak itu pula Alex-pun mengajukan pengunduran dirinya yang serta merta itu, hal ini-pun disesali oleh rekan-rekan kerjanya.
Alex yang dapat saja terlebih dahulu "cooling down" dan berfikir lebih bijaksana, mungkin tidak akan mengambil keputusan yang mendadak dan tidak bertanggung jawab itu. Bukanlah masalah ia tidak mendiskusikan dengan isterinya terlebih dahulu, namun dimana rasa tanggung jawab terhadap keluarga. Sebuah tingkat kedewasaan seseorang dalam hidupnya, adalah dengan turut memikirkan setiap tindakan yang diambilnya mempunyai koneksitas kuat dengan orang-orang terdekatnya. Bagaimana menurut Anda?
Yang lebih menyedihkan lagi, karena perbuatan-perbuatan demikian menyulut api kemarahan dalam rumah tangga mereka yang berujung pada perpisahan. Seorang Alex yang juga adalah seorang ayah, sama sekali tidak ambil pusing ketika istri & anaknya meninggalkannya. Tidak ada pula usaha dari seorang Alex untuk mempertahankan keutuhan keluarga, apalagi usaha untuk tetap berhubungan dengan anaknya sendiri.
Sama hal-nya dengan kisah Lola & Rudi yang telah menikah belasan tahun dan telah memiliki tiga orang anak. Rudi menjerumuskan dirinya sendiri kedalam tindak penipuan, yang berakibat terpuruknya perekonomian keluarganya dibawah titik nol. Singkat cerita, bukannya Rudi ini bangkit kembali, berusaha untuk bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup keluarganya sendiri, ia justru memilih jalur aman bagi dirinya sendiri, yaitu hanya makan dan tidur tanpa ada usaha apapun. Tidak bekerja, tidak berusaha, hari-harinya diisi dengan makan-tidur-buang air (maaf) saja. Sementara isterinya harus berusaha membanting tulang menghidupi keluarganya dengan berjualan. Walau demikian, tetap saja Rudi tidak bergeming dan memilih untuk "tidak ngapa-ngapain" dalam hidupnya. Gila.......
Nah, masih berfikir bahwa kedewasaan seseorang dibuktikan dengan umurnya yang tua?
Dewasa itu merupakan suatu pilihan hidup. Pilihan apakah kita ingin menjadi dewasa atau tetap terkungkung dan menikmati indahnya dunia "ego" kita sendiri. Hidup bukanlah mengenai diri sendiri. Namun, hidup dan kedewasaan menyangkut dengan orang-orang disekitar kita, baik yang dekat ataupun tidak dekat. Kedewasaan menentukan sikap dan keputusan-keputusan yang kita buat, tidak saja untuk diri kita sendiri melainkan ada pengaruhnya untuk orang-orang disekitar kita.

Saya jadi ingat akan tagline sebuah iklan rokok yang sudah cukup lama, yaitu "Menjadi Tua itu Pasti, Menjadi Dewasa itu Pilihan". Umur manusia pasti selalu bertambah setiap tahun menjadi tua (karena tidak ada yang selalu bertambah muda, bukan?) Lalu, seiring dengan bertambahnya usia manusia, belum tentu juga umur kedewasaan seseorang turut bertambah. Sekarang, semua tergantung diri kita sendiri. Pilihan ada di tangan kita, di tangan Anda.

Tentukanlah sendiri, dan jadilah manusia yang dewasa. Karena kembali lagi pada soalan kedewasaan tadi. Ke-Dewasa-an menentukan diri Anda yang sebenarnya. Kedewasaan menentukan kualitas kehidupan Anda sendiri.

Nah, pilihan menjadi dewasa turut andil dalam nilai-nilai kualitas kehidupan yang terpancarkan dalam perjalanan di kehidupan ini.
Jadi, apa pilihan Anda?

Dikutip dari:

2 comments:

  1. Dewasa adalah pilihan, sangat menarik... dan aku setuju banget kalimat itu.
    Tapi bagaimana kita akan membuat tolak ukur kedewasaan kita. Dari beberapa cerita yang disajikan betapa "sikap adalah hal kecil yang berdampak besar" tidak hanya pada diri kita tapi juga lingkungan dan sebuah kesuksesan juga bukan tolak ukur kedewasaan. Kadang kepahitan adalah jalan menuju sebuah kata kedewasaan. Dan memang sebuah pembelajaran harus dibayar dengan sangat mahal.

    Salam hormat buat FG. Sebuah perkenalan indah. semoga terjalin silahturahmi.

    ReplyDelete
  2. Saya masih dalam taraf belajar...
    Kata orang tua sih, dewasa mesti banyak mendapatkan pengalaman hidup...pahit-manis-getir-dll.....Menurut mereka lagi katanya, akan ada harga yang harus dibayar untuk sebuah pembelajaran menjadi dewasa....:-)

    ReplyDelete

Recent Comments